Minggu, 30 Juni 2013

Pertemuan Sarjana Membangun Desa (SMD) Jawa Barat, Konsolidasi dan Kebersamaan Usaha SMD Membangun Peternakan Jawa Barat


Program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian telah bergulir hampir 6 tahun. Untuk mencapai keberhasilan realisasi program SMD khususnya di Propinsi Jawa Barat, diperlukan pembinaan secara teknis dan berkesinambungan serta evaluasi pencapaian produksi dan pemasaran komoditas ternak terkait dengan implementasi program.
Secara nasional, para SMD juga sudah diwadahi dalam Asosiasi Sarjana Membangun Desa sesuai dengan hasil Musyawarah Kerja Nasional SMD pada tanggal 28-30 Mei di Solok Sumatera Barat. Bebrapa hasil yang dicapai pada agenda Musyawarah Kerja Nasional tersebut diantaranya adalah bentuk Kelembagaan Asosiasi yang terstruktur pada tingkat nasional dan daerah serta Pembentukan PT. Esemde Agribisnis Indonesia sebagai Holding Company kegiatan usaha ternak berbasis program SMD.
Agenda Pertemuan Sarjana Membangun Desa (SMD) Jawa Barat, dalam rangka Pembinaan Teknis dan Kelembagaan dalam Implementasi Program SMD, sebagai berikut :
  1. Pengarahan dan Pembukaan Acara. Oleh : Ir. Koesmayadie TP (Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat) 
  2. Evaluasi dan Pembinaan Paparan Hasil Evaluasi Nasional Program SMD Tahun 2007-2012. Oleh : Ir. Wignyo Sadwoko., MM (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) 
  3. Penguatan Kelembagaan, Oleh : Dr. Dudi Dewayana (Balai Besar Pelatihan Pertanian Kayuambon) 
  4. Sosialiasi Hasil Mukernas SMD dan Laporan Kegiatan ASMD Jawa Barat. Oleh : Wahyu Darsono (ASMD Jawa Barat) 
  5. Kerjasama dan Kemitraan PT Esemde Agribisnis Indonesia dengan SMD di Jawa Barat. Oleh : Bonny Irvan Faizal (ASMD Jawa Barat) 
  6. Formula Pakan bekualitas berbasis bahan baku lokal. Oleh : Ishaq Ibrahim Ph.D (FPSI Jawa Barat) 
  7. Kemitraan/Integrasi Usaha dan Teknis Produksi Ternak berbasis Komoditas dan Komunitas pada Program Sarjana Membangun Desa (Program Kemitraan PT Berdikari Tbk pada implementasi KKPE BRI). Oleh : Reni PT. Berdikari (Persero) 
  8. Pengolahan Limbah Ternak dan Teknologi Pembangunan Instalasi Biogas, Oleh : Deni Rumah Biru (Rumah BIRU Bandung)
Kesimpulan dan Rekomendasi dari paparan Pemateri sebagai berikut :
  1. SMD sebagai agen pembangunan peternakan, khususnya di Jawa Barat harus lebihbanyak menjalin komunikasi, hubungan harmonis, saling memberikan informasi serta membangun jejaring kerja (networking) dengan pihak-pihak terkait untuk lebih meningkatkan kemapuan diri, kelompok maupun lingkungannya.
  2. Peran SMD ke depan harus mampu menjawab tantangan di dalam pengembangan peternakan berbasis komoditas unggulan lokal (plasma nutfah jawa barat), seperti sapi perah, sapi potong rancah, domba garut, ayam pelung, ayam sentul, itik cihateup, itik rambon, dll.
  3. Hasil evaluasi nasional SMD Jawa Barat masih perlu ditingkatkan (urutan ke-6), sehingga perlu menjadi perhatian bersama semua pihak untuk kembali menunjukan eksistensi dan prestasi keberhasilan implementasi program SMD sehingga mamppu memberikan dampak dan manfaat bagi kemajuan peternakan di Jawa Barat dan Nasional khususnya.
  4. SMD harus lebih kreatif dalam menjalankan aktivitas usaha ternaknya secara teknis dan manajemen, terkait dengan integrasi usaha, pengembangan produk utama (susu, telur, daging) dan by product (kohe, urine, dll), sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi keberhasilan usaha dan peningkatan kesejahteraan kelompok dan SMD nya. Melalui pola integrasi dan penerapan teknologi (pakan, pembibitan, pemasaran) maka para SMD harus mambangun kerjasama dengan pihak-pihak terkait (perguruan tinggi, lembaga penelitian, swasta, dll).
  5. Terlampir handout/paparan dari para pemateri. (Download)
Keputusan hasil rapat melalui musyawarah kerja Asosiasi Sarjana Membangun Desa Provinsi Jawa Barat (ASMD Jabar) telah mufakat menetapkan beberapa hal sebagai berikut :
  1. Asosiasi Sarjana Membangun Desa Provinsi Jawa Barat (ASMD Jabar), secara kelembagaan (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) mengacu pada hasil Mukernas Asosiasi SMD bulan Juni 2013. Secara Hierarki,Asosiasi SMD merupakan bagian integral dari Asosiasi SMD Jawa Barat, dengan struktur kepengurusan sebagai Dewan Pengurus Daerah (DPD) Jawa Barat Asosiasi Sarjana Membangun Desa.
  2. Mengacu pada point 1 tersebut, secara operasional diterjemahkan dalam bentuk kegiatan tindak lanjut sebagai berikut:
    • Melakukan reorganisasi kepengurusan Asosiasi untuk periode 2012-2015, dengan susunan pengurus sebagai berikut :
      • Ketua : Bonny Irvan Faizal (Kabupaten Garut)
      • Sekretaris : Oky Apriadi (Kabupaten Subang)
      • Bendahara : Maptuhul Ilahi (Kabupaten Indramayu) 
      • Koordinator Komoditas : disesuaikan dengan kebutuhan program kerja dan kerjasama usaha antar komoditas, akan ditetapkan rapat kerja DPD Jawa Barat Asosiasi Sarjana Membangun Desa.
  3. DPD Jawa Barat Asosiasi SMD akan berperan dan berfungsi pada aspek Kemitraan, Integrasi, Advokasi dan Adopsi Teknologi, melalui pembentukan Koperasi-Koperasi berbasis wilayah dan atau berbasis Komoditas, selanjutnya Koperasi-Koperasi akan berperan secara langsung dalam Saham dan Kemitraan/Kerjasama Busines to Busines dengan PT Esemde Agribsisnis Indonesia.
  4. DPD Jawa Barat Asosiasi SMD akan membuat home base (kesekretariatan) dan pusat informasi komoditas (berbasis website) secara terintegrasi dengan Pusat di Kantor Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat (Fasilitasi dari Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat).
  5. SMD Jawa Barat sepakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembinaan SMD dan senantiasa menyampaikan Laporan Perkembangan Usaha Kelompok SMD kepada DPD Asosiasi SMD Jawa Barat (melaui email : asmd.jabar@gmail.com), Dinas Peternakan Kabupaten/Kota (sesuai alamat dinas masing-masing), Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat (melalui email:bidangpengembanganusaha@gmail.com, Fax: 0222513842). Laporan di sampaikan setiap bulan secara rutin/periodik.
  6. Program kerja prioritas DPD Jawa Barat Asosiasi Sarjana Membangun Desa, antara lain adalah Pelatihan/Bimbingan Teknis dan Manajemen Usaha Peternakan, Pengembangan Jejaring Usaha melalui Koperasi Komoditas/Wilayah, Konsolidasi Saham/Keterlibatan di PT. Esemde Agribisnis Indonesia, dan Tidak Lanjut Kemitraan Usaha Ternak Sapi Potong dengan PT. Berdikari (Persero).

Kamis, 20 Juni 2013

Pertemuan Evaluasi dan Pembinaan Sekaligus Muskerda Asosiasi SMD Jawa Barat

Program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian telah bergulir hampir 6 tahun. Untuk mencapai keberhasilan realisasi program SMD khususnya di Propinsi Jawa Barat, diperlukan pembinaan secara teknis dan berkesinambungan serta evaluasi pencapaian produksi dan pemasaran komoditas ternak terkait dengan implementasi program.
Secara nasional, para SMD juga sudah diwadahi dalam Asosiasi Sarjana Membangun Desa sesuai dengan hasil Musyawarah Kerja Nasional SMD pada tanggal 28-30 Mei di Solok Sumatera Barat. Bebrapa hasil yang dicapai pada agenda Musyawarah Kerja Nasional tersebut diantaranya adalah bentuk Kelembagaan Asosiasi yang terstruktur pada tingkat nasional dan daerah serta Pembentukan PT. Esemde Agribisnis Indonesia sebagai Holding Company kegiatan usaha ternak berbasis program SMD.
Oleh karena itu, berdasarkan beberapa hal tersebut di atas maka Asosiasi SMD Jawa Barat bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat merancang dan mengusulkan suatu agenda Pertemuan Musyawarah Kerja SMD dalam rangka Evaluasi Supply-Demand Komoditas Ternak di Jawa Barat pada Program Sarjana Membangun Desa serta agenda Konsolidasi dan Sosialisasi Hasil Musyawarah Kerja Nasional SMD.
Kegiatan Pertemuan ini akan dilaksanakan pada Hari/Tanggal : Minggu 30 Juni - Senin 1 Juli 2013 di Hotel Tofaz Jl. Dr Djunjunan Pasteur Bandung, dengan rencana susunan acara sebagai berikut :
  1. Pengarahan dan Pembukaan Acara, Oleh : Ir. Koesmayadie TP (Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat) 
  2. Evaluasi dan Pembinaan Paparan Hasil Evaluasi Nasional Program SMD Tahun 2007-2012, Oleh : Ir. Fauzi Luthan (Direktur Budidaya Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) 
  3. Penguatan Kelembagaan, Oleh : Dr. Dudi Dewayana (Balai Besar Pelatihan Pertanian – Kayuambon Lembang) 
  4. Sosialiasi Hasil Mukernas SMD dan Laporan Kegiatan ASMD Jawa Barat, Oleh : Wahyu Darsono (Ketua ASMD Jawa Barat Periode 2012-2015) 
  5. Evaluasi Produksi dan Pemasaran Komoditas Ternak pada Implementasi Program SMD Di Jawa Barat, Oleh : Bonny Irvan Faizal (Ketua KSU Gapoknak Kasaba Kabupaten Garut) 
  6. Kerjasama dan Kemitraan PT Esemde Agribisnis Indonesia dengan SMD di Jawa Barat, Oleh : Irawan Eko Sulistyo (Direktur Utama PT. Esemde Agribisnis Indonesia) 
  7. Formula Pakan bekualitas berbasis bahan baku lokal, Oleh : Oleh : Isaq Ibrahim Ph.D ( FPSI Jawa Barat) 
  8. Kemitraan/Integrasi Usaha dan Teknis Produksi Ternak berbasis Komoditas dan Komunitas pada Program Sarjana Membangun Desa (Program Kemitraan PT Berdikari Tbk pada implementasi KKPE BRI), Oleh : Alvin Purnadi (Direktur Operasional dan Pemasaran PT. Berdikari Tbk) 
  9. Pengolahan Limbah Ternak dan Teknologi Pembangunan Instalasi Biogas, Oleh : Deni Rumah Biru (Rumah BIRU Bandung )
Sumber : Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. Informasi lengkap, Hubungi : Bonny Irvan (08122113852)

Kecamatan Menes Jadi Pusat Penggemukan Domba

Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang menjadi pusat penggemukan domba, mengingat selama ini banyak warga setempat yang berhasil menekuni usaha tersebut.

"Setiap tahun ribuan ekor domba hasil penggemukan peternak Menes dijual ke berbagai daerah, dan kita terus mendukung usaha penggemukan domba tersebut," kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pandeglang Winarno di Pandeglang, Kamis (20/6).

Ia juga menjelaskan, usaha penggemukan domba di Kampung Kadutomo, Desa Sindang Karya, Kecamatan Menes marupakan rekomendasi dari Badan Penelitian Peternakan (Balitnak) Kementerian Pertanian.

"Kita mendorong warga Menes melaksanakan usaha penggemukan domba, karena sudah ada kajian dari Balitnak, yang menyatakan daerah itu cocok untuk penggemukan," katanya.

Winarno menyatakan, pada 2007 Balitnak melakukan kajian usaha peternakan domba di Pandeglang, yakni untuk pengembangan di Cinyurup, Juhut dan penggemukan di Kadutomo, Menes.

Setelah melakukan kajian itu, kata dia, Balitnak memberikan rekomendasi untuk usaha pengembangan domba di Cinyurup dan Penggemukan di Kadutomo, dan sampai sekarang keduanya sekarang berjalan.

Untuk mendukung usaha penggemukan domba di Kadutomo, kata dia, pemerintah Kabupaten Pandeglang telah memberikan bantuan domba sebanyak 25 ekor pada peternak setempat.

Warga setempat membeli anak domba kemudian dipelihara, setelah dewasa dan badannya gemuk dijual lagi. Domba yang dibeli seluruhnya pejantan, dengan pertimbangan selain cepat laku harganya juga relatif lebih mahal.
Sumber : ROL

Rabu, 19 Juni 2013

500 Sapi dan Domba se-Jabar Ikut Kontes Ternak di Unpad Bandung

Sekitar 500 hewan ternak jenis sapi, domba, dan kambing mengikuti Kontes Ternak 2013 yang digelar Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jabar di Kampus Universitas Padjdjaran (Unpad), Jatinangor, Sumedang, Selasa (18/6). Hewan ternak tersebut dinilai berdasarkan produktifitas dan penampilannya.

Para peternak yang mengikuti kontes tahunan ini sebanyak 250 orang, yang berasal dari 17 Kabupaten/Kota di Jawa Barat . Penilaian hewan ternak dilakukan petugas Disnak Jabar dengan mengunjungi langsung tempat peternakan peserta. Misalnya untuk sapi perah, yang dinilai adalah produktivitas dalam menghasilkan susu dan postur sapi.

Untuk kategori sapi perah, juara pertamanya adalah peternak asal Sumedang, Komar Purnama. Sapi komar mampu menghasilkan 34 liter susu dalam sehari. Padahal, rata-rata seekor sapi perah hanya biasa menghasilkan 10 sampai 20 liter susu perharinya.

Komar mengaku sangat antusias mengikuti Kontes Ternak yang diresmikan Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar ini. Malah dia berharap, Pemprov Jabar bisa menggelar kontes minimal dalam setahun tiga kali. "Dengan kontes ini kami jadi lebih semangat ternak, kami merasa dihargai," kata Komar, yang mendapat hadiah Rp7,5 juta, kepada Koran Jakarta, Selasa (18/6).

Bapak dua anak ini memiliki delapan ekor sapi di peternakannya. Dengan beternak sapi, Komar merasa cukup bisa menghidupi satu istri dan dua anaknya. Tidak hanya itu, kotoran ternaknya juga dijadikan sumber biogas. Sehingga Komar tidak perlu lagi membeli gas Elpiji.

Berbagai jenis sapi, domba dan kambing unggulan juga dipamerkan dalam kontes tersebut. Peserta kontes lainnya, Inne Diana, yang mengkonteskan domba garutnya. "Penilaian untuk domba adalah kegagahannya. Misalnya bentuk tanduk, gigi, dan kesehatannya," jelas Inne.

Domba milik Inne juga keluar sebagai juara satu Kontes Ternak untuk kategori domba. Inne menuturkan, saat ini memiliki 20 ekor domba garut. Drinya dan suaminya sudah lima tahun menggeluti ternak domba. Namun Inne enggan menyebutkan berapa penghasilannya. "Suami saya yang masarin, saya merawat. Ya cukuplah untuk menghidupi tiga anak dan pegawai," kata perempuan berkerudung ini.

Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar menegaskan, kontes ternak tersebut bukti keseriusan Pemprov Jabar dalam memerhatikan peternak. "Lomba ini untuk jurinya saja profesor dan sarjana peternakan, untuk menilai bagaimana bibit-bibit unggul, ini sangat serius," ujar Deddy, yang berkeliling mengamati ternak-ternak unggul tersebut. Deddy misalnya mengamati sapi ranca yang menjadi ikon sapi Jabar. Tidak lupa, Deddy juga menyambangi kandang domba garut.

Namun, ada persoalan serius yang dihadapi Jabar. Menurut Deddy, hingga saat ini Jabar masih jauh dari swasembada daging sapi. Ia mengakui, pemenuhan kebutuhan daging sapi untuk Jabar adalah tantangan Pemprov Jabar. "Kebutuhn daging sapi di Jabar belum bisa terpenuhi oleh produksi di dalam Jabar sendiri, sementara bibitnya unggul-unggul," katanya.

Masalah ketersediaan daging sapi di Jabar, menurutnya, terkait dengan budaya masyarakat Jabra yang agraris. Masyarakat Jabar belum bisa menerima peternakan sebagai bagian dari kehidupannya. Beda dengan domba atau kambing di mana Jabar tidak pernah kekurangan. Kebutuhan sapi di Jabar sekitar 510 ribu ekor. Sementara dari Jabar hanya mampu memproduksi 423 ribu ekor sapi. Sehingga kekurangannya bersal dari luar Jabar atau impor.

"Maka salah satunya bagaimana kontes ternak ini jangan hanya setahun sekali, harus lebih dari satu kali digelar, kemudian melibatkan masyarakat sebanyak-banyaknya supaya tumbuh sosialisasi bagaimana menguntungkan peternak sapi," ungkapnya. Ia berjanji akan terus memfasilitasi kontes ternak ini.
Sumber : Koran Jakarta.com

Senin, 17 Juni 2013

Pembukaan Kontes Ternak Tahun 2013, Oleh Wagub Deddy Mizwar Digelar di Jatinangor Sumedang

Kadisnak Jabar, Kusmayadi Tatang Padmadinata dalam keterangannya kepada Indofakta Online, melalui telepon selularnya (17/6) mengatakan agenda kegiatan tahunan di Dinas Peternakan Jabar, yaitu kontes ternak tahun ini kembali akan digelar.

Kegiatan kontes ternak, dijadwalkan akan berlangsung di Kampus Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, 18 Juni 2013. Kegiatan tersebut, rencananya akan dibuka Wagub Jabar, Deddy Mizwar.

Berkenaan dengan kegiatan kontes ternak, untuk hari ini (17/6) sedang dilakukan pendaftaran dari beberapa daerah. Sampai posisi siang, tercatat ada 70 ekor hewan ternak didaftarkan untuk mengikuti kontes tersebut.

Jumlah tersebut, masih memungkinkan untuk bertambah. Adapun jenis hewan yang dikonteskan meliputyi : Sapi Perah, Sapi Potong, Kambing dan Domba. Dalam tahapan pendaftaran kontes ternak, juga dilakukan penilaian atas kondisi hewan ternak.

Penyelenggaraan kontes ternak, dimaksudkan untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pengembangan bibit hewan ternak yang sudah dilaksanakan selama ini. Disisi lain, ujar Kusmayadi kontes ternak dimaksudkan untuk memotivasi para peternak agar mampu memelihara hewan ternak secara baik.
Sumber : Indofakta.com

Kamis, 06 Juni 2013

INDO LIVESTOCK: Mentan Minta Pebinis dan Petani Jaga Keseimbangan Harga

Para pelaku usaha hendaknya memperhatikan etika dalam berbisnis. Jangan mengambil keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan kepentingan konsumen.

Menteri Pertanian RI Suswono mengemukakan hal itu ketika membuka Indo Livestock 2013, Rabu (5/6) di Nusa Dua, Bali. “Untung boleh tapi perhatikan juga kepentingan konsumen,” kata Mentan Suswono dalam siaran persnya.

Mentan mencontohkan kasus melonjaknya harga bawang putih baru-baru ini. “Di China harganya Rp9.000 per kilogram kok di sini harganya menjadi Rp90.000 per kilogram, bagaimana ceritanya,” tanya Mentan.

Menurut Mentan, memperhatikan kepentingan konsumen penting. Karena jika mereka resah dan berujung pada munculnya gejolak sosial, dunia usaha akan kena dampaknya juga.

Selain kepada para pebisnis, Mentan juga meminta kepada para petani dan peternak agar jangan mematok harga tinggi-tinggi. Harus ada keseimbangan.

“Petani dan peternak untung, tapi konsumen juga tidak dirugikan. Yang penting kan harga stabil. Kalau fluktuatif juga tidak menguntungkan dalam jangka panjang,” katanya.

Terkait dengan masih tingginya harga daging, terutama di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten, Mentan mengimbau agar perlu dihitung ulang berapa harga sapi hidup saat ini.

Menurut Mentan, harga sapi hidup Rp34.000-Rp36.000 per kilogam terbilang tinggi. “Di tingkat harga Rp30.000 – Rp32.000 per kilogram peternak sebetulnya sudah untung,” jelasnya.

“Jadi peternak sekarang sedang senang, tetapi harap perhatikan juga konsumen. Prinsipnya petani dan peternak senang, konsumen juga senang. Jadi harus seimbang,” ungkap Mentan.

Terkait dengan penyelenggaraan Indo Livestock 2013, yang diikuti oleh 360 peserta dari 36 negara di Asia, Eropa, dan Amerika, Mentan menegaskan hendaknya Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah pameran, tetapi produk-produknya juga harus menjadi tuan rumah.

“Kita jangan terus menerus menjadi pasar. Kalau hanya penyelenggara pameran kita hanya akan menjadi pasar saja,” katanya. (mfm)
Sumber : http://www.bisnis.com/Editor : Fatkhul Maskur
Ada kesalahan di dalam gadget ini