Jumat, 29 Juni 2012

Sarjana Membangun Desa (SMD) Propinsi Jawa Barat


  • KEMITRAAN : Pengembangan kerjasama dalam peningkatan kapasitas usaha peternakan (permodalan dan pemasaran) berbasis kelompok dan komoditas ternak. 
  • INTEGRASI : Fasilitasi ketersediaan sarana produksi peternakan (sapronak) dan diversifikasi usaha peternakan berbasis kelompok dan komoditas ternak. 
  • ADVOKASI : Fasilitasi manajerial dalam pengelolaan sumber daya untuk kemajuan usaha peternakan berbasis kelompok dan komoditas ternak. 
  • ADOPSI TEKNOLOGI : Aplikasi teknologi tepat guna dari berbagai sumber untuk pengembangan usaha peternakan berbasis kelompok dan komoditas ternak. 
KOMODITAS : 
  • Sapi Potong 
  • Sapi Perah 
  • Kerbau 
  • Kambing 
  • Domba 
  • Ayam Buras 
  • Itik Lokal 
  • Kelinci 

PRODUK : 
  • Olahan Susu Sapi/Kambing 
  • Olahan Daging 
  • Olahan Telur 
  • DOC/DOD 
  • Live Cattle 
  • Live Bird 
  • Live Goat/Sheep 
  • Pakan Ternak 
  • Pupuk Kompos 
  • Biogas 
  • Pelatihan/Magang

Kamis, 28 Juni 2012

Jawa Barat Kekurangan Daging Sapi 5.000 Ton

Tahun ini, untuk memenuhi berbagai kebutuhan hari besar keagamaan nasional seperti puasa, lebaran, natal dan tahun baru Jabar masih kekurangan daging sapi sebanyak 5.000 ton atau setara dengan 26.197 kilogram (kg). Menurut Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Koesmayadi Tatang Padmadinata, untuk memenuhi kebutuhan ini, Jabar akan menutupinya melalui pasokan sapi dari delapan provinsi lain. Jadi, tak akan mengandalkan sapi impor.

“Saya sudah bicara dengan pemasok sapi lokal mereka bilang siap memenuhi 5.000 ton tersebut,” ujar Koesmayadi, Jumat (8/6). Menurut Koemayadi, kesiapan pemasok sapi lokal tersebut harus ditopang oleh distribusi yang lancar. Karena, masalah distribusi ini kerap dikeluhkan oleh peternak.

Koesmayadi menilai, kalau kekurangan daging sapi itu diatasi dengan kebijakan impor, maka jalan keluar tersebut terlalu linear. Pasalnya, kalaupun para pemasok dari wilayah lain tidak sanggup memenuhi kebutuhan Jabar, Dinas Peternakan Jabar masih memiliki kelebihan daging ayam yang surplus mencapai angka 341 ribu ton. “Kekurangan daging sapi iya, tapi kelebihan ayam itu bisa menggantikan,” tegas Koesmayadi.

Menurut Koesmayadi, konsumen di Jabar sudah bisa cerdas mensubtitusi daging sapi ke ayam jika ada kekurangan di pasar. Menanggapi soal kebijakan pemerintah untuk mengimpor daging sapi, Koesmayadi mengatakan, Ia tidak memiliki kewenangan untuk menolak kebijakan impor tersebut. Ia, hanya bisa memastikan kalau stok daging sapi di Jabar tak memerlukan tambahan daging impor. “Bukan kewenangan kami menolak impor karena itu sudah sistem perdagangan,” kata Koesmayadi.

Data Disnak Jabar mencatat konsumsi daging sapi dan kerbau di Jabar mencapai 24,40 persen. Angka ini, masih kecil dibanding unggas yang mencapai 74,10 persen. Selama ini, kata Koesmayadi, yang diuntungkan oleh kenaikan harga daging sapi bukan lah peternak, melainkan para pedagang. “Sampai sekarang kalau ada kenaikan, nilai tukar peternak tidak ikut naik,” imbuh Koesmayadi.
(Sumber : republika-online.com)

Selasa, 26 Juni 2012

Harga Daging Ayam Naik

Kenaikan harga daging ayam terus berlanjut. Kenaikan harga diperkirakan terus berlanjut sampai dengan menjelang puasa bahkan sampai Lebaran. Kenaikan harga tersebut tidak hanya terjadi di pasar eceran tradisional, tetapi sejak dari kandang peternak.

Begitu pula dengan harga daging yam di supermarket di kota Bandung. Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat, Henri Hendarta menyebutkan, harga jual daging ayam di pasar modern saat ini sudah naik menjadi Rp 27.000-31.500 per kilogram (kg).

Sementara itu, Sekretaris DPP Pengusaha Peternak Unggas Indonesia (PPUI), Aswin Pulungan, menduga, kenaikan harga jual daging ayam berkaitan dengan permainan industri besar yang menaikkan harga jual day old chicken (DOC) atau bibit ayam baru lahir. Selain itu, kenaikan daging ayam juga dipicu oleh kenaikan harga pakan yang membuat biaya produksi ternak naik.

Sejak beberapa pekan lalu, harga jual DOC naik dari Rp 4.500 per ekor menjadi Rp 4.500 per ekor. Begitupula dengan harga pakan ternak yang naik dari Rp 4.900 per kg menjadi Rp 5100 per kg. "Efeknya, harga jual ayam ras kandang rakyat naik, yang sebelumnya Rp 14.000 per kg menjadi Rp 15.000 per kg," terang Aswin. (Hendra Gunawan/Tribunnews/industri.kontan.co.id)

Senin, 25 Juni 2012

INDO LIVESTOCK 2012 EXPO & FORUM


Dear Industry Professional,

We would like to introduce ourselves as the organizers of the 7th annual “Indonesia's No.1 Livestock, Feed, Dairy and Fisheries Industry Event - Indo Livestock 2012 Expo & Forum” at Jakarta Convention Center, Jakarta, Indonesia on the 4 – 6 July 2012.

We invite you to come and take part in this INDONESIA'S BIGGEST ANNUAL INDUSTRY SHOW to help you find the right business prospects in the fields of livestock, feed, dairy and fishery industries. We expect integrator, farmer, dairy/milk processing, feedmillers, veterinarians, food processor, caterer, slaughterhouse, animal health, transportation, packaging/canning, government/insititution, supplier/trader/distributor from the Middle East & Indonesia region to take part in this expo & forum.

I look forward to the pleasure of welcoming you to Indo Livestock 2012 Expo & Forum incorporating with Indo Feed 2012, Indo Dairy 2012 and Indo Fisheries 2012.

Tel: +6221 8650962 or e-mail: promosi.napindo@gmail.com

Should you require more details Please Contact :

PT. Napindo Media Ashatama
Tel: +6221 8650962, 8644756
E-mail: info@indolivestock.com

Minggu, 24 Juni 2012

Bebek, Entok dan Puyuh Semakin Menjanjikan

Menjamurnya rumah-rumah makan maupun pedagang kaki lima di pinggir jalan yang menyediakan bebek goreng dan pedesan entok (itik manila), membuka pangsa pasar kedua jenis unggas tersebut semakin terbuka lebar.

"Alhamdulillah, saya setiap hari rata-rata bisa menjual entok dan bebek antara 25 sampai 50 ekor, yang lain pun sama lakunya," kata Aman, seorang pedagang bebek dan entok di pasar ayam Weru, Selasa (30/3).

Menurut dia, para pembeli di samping pendatang dari daerah lain yang biasanya untuk dijual setelah dimasak, banyak juga konsumen lokal untuk dipotong atau dipelihara sehingga pasaran tidak sepi.

"Bagi mereka yang tidak mau repot, di pasar ini juga ada mesin perontok bulu unggas, dengan begitu pembeli tinggal bawa pulang dan memasaknya tidak perlu mencabuti bulu ternak tersebut," kata Aman, menambahkan.

Harga seekor bebek atau entok yang baru berumur antara 1-2 bulan berkisar Rp 10.000-Rp 13.000, sedangkan yang siap potong, namun masih muda dan tidak besar antara Rp. 25.000-Rp 30.000, sementara untuk entok jantan yang besar harganya bisa mencapai antara Rp 40.000-Rp 75.000 per ekor.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan Kab. Cirebon, H. Ali Efendi mengakui, pangsa pasar entok dan bebek cukup baik pada saat ini. Namun, untuk entok belum ada yang membudidayakannya secara khusus seperti halnya bebek. Masyarakat beternak entok umumnya hanya sambilan saja.

"Kalau bebek itu sudah ada sentra-sentranya. Seperti di Desa Kroya Kec. Panguragan itu menyediakan DOD, di daerah Losari merupakan sentra pulet (bebek siap bertelur-red) dan di Gebang adalah menyediakan telur," kata Ali, menjelaskan

Minat sejumlah masyarakat pedesaan di Kabupaten Cianjur bagian Selatan untuk beternak burung puyuh mengalami kegairahan sejak setahun terakhir. Perkembangan ini menyusul meningkatnya pangsa pasar komoditas tersebut ke pasar Jakarta dan sekitarnya, sehingga harga telur burung puyuh relatif stabil baik kepada para peternak.

Peternak burung puyuh dari Kecamatan Campaka, Cianjur, Eman, Jumat (14/5) mengatakan, perkembangan ini tak terlepas dari serapan konsumen yang menggemari keragaman menu makanan berbahan telur puyuh. Selain itu, makan telur puyuh kembali menjadi keunikan, karena ukurannya kecil dan rasanya gurih.

Beberapa peternak lain, mengatakan melihat adanya tren di kalangan anak muda yang senang bepergian, yang belakangan banyak membawa bekal telur puyuh. Makan burung puyuh rebus dirasakan praktis dimakan, misalnya sambil camping, atau dibakar membuat sate telur.

Oleh sejumlah pedagang asong, telur puyuh sering dijual Rp 1.000,00/lima butir, sedangkan dalam bentuk kemasan, sering dijual Rp 6.000,00-8.500,00/kemasan plastik. Beberapa karyawan toko ritel mengatakan, permintaan telur puyuh relatif stabil, namun pada waktu-waktu tertentu sering meninggi.
(Sumber : pikiran-rakyat.com)

Jumat, 22 Juni 2012

Mentan: Impor Susu Dalam Negeri Capai 74 Persen

Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono,MMA mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi industri persusuan Indonesia. Menurutnya, hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susudalam negeri, Indonesia masih melakukan impor hingga 74 persen.

Berdasarkan data BPS, populasi sapi perah tahun 2011 sebesar 597,2 ribu ekor dengan laju pertumbuhan 2,5 persen. Dari jumlah populasi tersebut sebagain besar tersentralisasi di Pulau Jawa yaitu sebanyak 98% dan sisanya tersebar dibeberapa wilayah luar Jawa. Konsentrasi populasi sapi perah di Pulau Jawa initerkait dengan keberadaan Industri Pengolahan Susu (ISP) skala besar yang sampai saat ini masih terkonsentrasi di Pulau jawa.

“Produksi susu sapi dalam negeri sampai saat ini baru mencapai sekitar 679 ribu ton pertahun dan hanya mampu memenuhi 26 persen kebutuhan konsumsi susu nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap susu sapi impor dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan kerawanan terhadap ketahanan pangan produk asalhewan. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapat perhatian kita bersama untukmengupayakan peningkatan produksi susu dalam negeri baik melalui peningkatanproduktivitas dan populasi sapi perah, maupun pengembangan industri pengolahansusu dalam negeri,” jelas Mentan saat membuka Gebyar Minum Susu di Gelora BungKarno, Senayan, Jakarta pada Minggu (17/6/2012).

Mengingat pentingnya peranan susu dalam memperbaiki kualitas SDM bangsa Indonesia, Mentan memandang perlu adanya sinergi antara para pemangku jabatan untuk mendorong masyarakat minum susu sejak dini. “Untuk itu harus diupayakan agar harga susudapat terjangkau masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah sehingga apayang sering disebut sebagailoss generation akibat masalah gizi tidak terjadidi indonesia,” katanya.

Menurut Mentan, kebijakan peningkatan konsumsi susu masyarakat diarahkan pada peningkatan konsumsi susu dengan pertimbangan harganya relatif lebih terjangkau dan dapat diproduksi oleh pelaku usaha skala kecil di sentra produksi susu diperdesaan. “Dengan begitu, kebijakan yang diambil dapat member efek ganda,disamping meningkatkan gizi masyarakat dengan tersedianya susu segarmurah,sekaligus meningkatkan dinamika perekonomian di perdesaan,” jelasnya.

DikatakanMentan, masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan persusuan nasional adalah lambatnya laju perkembangan populasi sapi perah dan rendahnya produktivitas serta kualitas susu yang dihasilkan. “Rendahnya mutu susu peternak ini sering berimplikasi terhadap pengurangan nilai atau penalti bahkan penolakan dari industri pengolahan susu. Untuk itu, saya mohon hal ini menjadiperhatian kita semua dalam meningkatkan kualitas yang lebih baik,” ujarnya.
Sumber: BiroUmum dan Humas, deptan.go.id

Rabu, 20 Juni 2012

Domba Garut DiKlaim Malaysia ??

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan Domba Garut sudah diakui sebagai milik Indonesia. Domba Garut merupakan Plasma Nutfah asal Indonesia. "Domba Garut sudah ditetapkan sebagai plasma nutfah Indonesia, dan sudah diakui secara internasional," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro kepada detikFinance, Selasa (19/6/2012)

Syukur menegaskan sangat tidak mungkin Malaysia mengklaim Domba Garut Indonesia. Hal ini mementahkan kekhawatiran para peternak Domba Garut di Jawa Barat. "Saya yakin itu tidak mungkin," tegas Syukur.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera (PPNSI) Bahruzin mengkhawatirkan adanya pengklaiman atas kepemilikan Domba Garut, pasalnya menurut Bahruzin pemerintah belum melakukan pemurnian atas Domba asli Indonesia ini. "Kalau kita tidak pelihara keaslian ini, domba itu diambil oleh Malaysia, kalau dia beli lalu diseleksi sehingga dia mendapatkan pemurniannya dari hasil seleksi," katanya

Kekhawatiran ini karena kegiatan perdagangan Domba Garut ke Malaysia sudah terjadi sejak tahun 2000 lalu. Selain rajin impor domba hidup, mereka juga mengembangbiakan domba-domba asal Indonesia. Proses perdagangannya dilakukan melalui perdagangan antar pulau termasuk dari Banten ke Medan lalu ke Malaysia.

Bahkan Wakil Ketua DPD Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Sumatera Utara Elianor Sembiring mengatakan saat ini hampir semua Domba Garut yang di ekspor ke Malaysia belum dilakukan pengkebirian atau Kastrasi. Dengan demikian negara importir seperti Malaysia dengan mudah mengembangbiakkan Domba Garut di negerinya.

Kastrasi adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan fungsi dari alat reproduksi dengan jalan mematikan sel kelamin jantan dan betina sehingga ternak bersangkutan tidak mampu menghasilkan keturunan. Kastrasi dapat dilakukan dengan jalan mengikat, mengoperasi ataupun memasukan bahan kimia ke dalam organ tubuh tertentu.

Kekhawatiran dari para peternak soal Domba Garut diklaim oleh Malaysia tak beralasan. Peluang Malaysia mengklaim Domba Garut sangat kecil, karena Indonesia telah mematenkan Domba Garut. Hal ini disampaikan oleh Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf saat dihubungi detikFinance, Selasa (19/6).

Rochadi menuturkan hal itu tidak mungkin terjadi karena Domba Garut telah memiliki Standard Nasional Indonesia dan diakui di dunia bahwa Domba Garut itu merupakan asli Indonesia. "Nggak mungkin itu terjadi, sekarang ini Domba Garut sudah distandardisasi, dan diakui di dunia kalau domba itu asli Garut, asli Cibuluh," Ungkap Rochadi.

Menurutnya, keaslian Domba Garut ini sudah didaftarkan di Kementerian terkait sebagai hak kekayaan intelektualnya. "Itu kan sudah didaftarkan di Kemenkumham dan Kementrian Pertanian, kalau angklung yang dulu itu mungkin karena belum terdaftarkan," paparnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia, wilayah Jawa Barat, Yudi Guntara Noor mengungkapkan hal yang senada.  Menurutnya tahun lalu Kementerian Pertanian sudah menetapkan Domba Garut ini adalah kekayaan asli Indonesia yang berasal dari Jawa Barat.

"SNI nya sudah ditetapkan, saya juga di tim sertifikasi bibit sudah menetapkan standardisasi Domba Garut.  Tahun lalu kita baru mendapatkan pengakuan ini dari Menteri Pertanian, dan SK Mentan mengenai Domba Garut ini pun kita sudah punya. Jadi kekhawatiran itu tidak perlu lah," tambah Yudi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera (PPNSI) Bahruzin mengkhawatirkan adanya pengklaiman atas kepemilikan Domba Garut, pasanya menurut Bahruzin pemerintah belum melakukan pemurnian atas Domba asli Indonesia ini. "Kalau kita tidak pelihara keaslian ini, domba itu diambil oleh Malaysia, kalau dia beli lalu diseleksi sehingga dia mendapatkan pemurniannya dari hasil seleksi," katanya.
(Sumber : finance.detik.com/analisadaily.com)

Selasa, 19 Juni 2012

Teknologi Produksi Pakan Kelinci

Masalah ketersediaan pakan tidak terlepas dari kondisi musim. Pada musim kemarau ketersediaan hijauan makanan ternak (HMT) relatif kurang dan sebaliknya pada musim hujan, HMT tersedia dalam jumlah banyak. Strategi penyediaan pakan harus dilakukan dengan manajemen yang baik pada kegiatan penanaman HMT, pengolahan dan pengawetan serta penyimpanan (pergudangan). Inovasi teknologi dalam poenyediaan pakan kelinci pada aspek pengolahan dan pengawetan dapat dilakukan dengan pembuatan silase, hay, feed komplit dengan mempertimbangkan basis wilayah dan kemampuan pencernaan (organ pencernaan) kelinci sebagai hewan monogastrik/pseudoruminant.

Secara fisiologis, kebutuhan nutrien kelinci harus didasarkan pada pemenuhan kebutuhan hidup pokok kelinci itu sendiri. Kebutuhan hidup pokok tersebut berperan pada maintenace hidup kelinci, menopang proses vital dalam tubuh, meningkatkan ukuran tulang, jaringan dan organ serta produksi susu, daging, dan bulu. Pada fase pertumbuhan, kelinci memerlukan protein yang berkualitas dan cukup, memerlukan mineral yang lebih tinggi untuk pertumbuhan tulang dan perlu pembatasan energi untuk mencegah perlemakan yang berlebihan. Kekurangan nutrisi pada fase pertumbuhan dapat menyebabkan abnormal maturity. Sementara itu, pada periode produksi, periode maturity terjadi secara physiologi maupun reproduksi. Pada fase ini pertumbuhan sudah optimum dan pada kelinci bibit biasanya perlu asupan Ca yang cukup untuk produksi susu, sedangkan pada kelinci pedaging akan terjadi deposit lemak sehingga memerlukan energi yang tinggi.

Pakan yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) mempunyai semua nutrien dalam jumlah yang benar sesuai dengan kebutuhan ternak (seimbang), palatable, harga relatif murah, pencampuran bahan merata dan tidak mengandung unsur berbahaya. Strategi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki efisiensi pakan kelinci antara lain adalah dengan manajemen nitrogen pakan yang meliputi asam amino, phase pemberian pakan dan enzym serta additives. Strategi menurunkan kehilangan N dapat dilakukan dengan melakukan formulasi pakan dengan pendekatan asam amino bukan dengan protein kasar serta memperhatikan phase pemberian pakan dan jika diperlukan dapat digunakan bahan additives atau supplement. Penambahan bahan additive harus dipertimbangkan bahwa polisakarida bukan pati (NSPs) dapat mengganggu pencernaan dan absorbsi lemak, protein dan karbohidrat, asam phitat dapat mengganggu ketersediaan phospor, protein dan karbohidrat, namun demikian permasalahan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan enzym. Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam memperbaiki efisiensi pakan adalah menghindari penggunaan pakan beranti-nutrisi. Pakan asal tanaman legum dan biji-bijian/cereal mengandung unsur yang berpengaruh negatif pada kecernaan dan ketersediaan asam amino dan nutrien lainnya (misalnya kedelai mengandung tripsin inhibitor). Strategi untuk penyediaan Phospor (P) dilakukan dengan menyediakaanya sesuai dengan kebutuhan ternak, pilih bahan yang mengandung P tinggi dan biasanya dari bahan pakan hewani yang mempunyai kecernaan 100%, selain itu dapat juga digunakan feed additive dan suplement semisal enzym dan vitamin D.

Strategi pembuatan pakan kelinci dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek pemilihan bahan pakan (sumber protein, energi, vitamin, mineral dan additive), analisa komposisi kimia pakan, formulasi pakan, penyiapan bahan pakan (choping, grinding) mixing, pelleting dan pengemasan. Pakan kelinci dapat dibuat dengan menggunakan bahan pakan lokal dengan komposisi hijauan dan konsentrat serta vitamin/mineral yang seimbang. Hijauan dapat berupa rumput, kulit jagung, kulit kopi, kulit coklat, dll. Konsentrat dapat berupa jagung, dedak, gaplek, bungkil kelapa, bungkil inti sawit, tepung ikan, dll. Vitamin terdiri dari DCP, CaCo3 dan Vitamin ADEK. Comtoh formulasi pakan kelinci sebagai berikut : Jagung 10-15%; Hay 5-19%; Bungkil Kedelai 15-20%; Bungkil Kelapa 5-10%; CGF 4-7%; Tepung Ikan 1-3%; CPO 2-5%; Dedak/Pollard 10-15%; Onggok 5-10% dan bahan lainnya (premiks 2-5%).

Kunci keberhasilan produksi pakan kelinci berkualitas adalah pada aspek penyediaan, seleksi, formulasi dan pencampuran bahan bakan yang seimbang, sementara teknologi pelleting merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk pembentukan dan penyimpanan pakan kelinci.
(Sumber : www.kopnakci.blogspot.com)

Kontes Ternak Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Direktur Pakan Ternak mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kontes Ternak selain sebagai ajang pemberian penghargaan kepada peternak juga untuk menjamin ketersedian Plasma Nuftah. Beliau juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya Kontes Ternak Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2012. Permasalahan yang dihadapi peternak di Indonesia pada umumnya antara lain ketersediaan lahan semakin terbatas karena banyak lahan yang dikonversi menjadi perumahan, sebagian besar bahan baku pakan ternak harus diimpor (jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung tulang dan vitamin) sehingga diharapkan pemerintah setempat mengatasi permasalahan tersebut.

Secara resmi Kontes Ternak ini dibuka oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat diwakili oleh Kepala BAPEDA dengan ditandai pemukulan gentong. Acara ini di prakarsai oleh Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat dilaksanakan di Desa Wonohardjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis yang merupakan agenda tahunan sekaligus memperingati hari jadi Kabupaten Ciamis yang ke 370, dihadiri oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat diwakili oleh Kepala BAPEDA, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI diwakili oleh Direktur Pakan Ternak, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Kepala OPD Lingkup Provinsi Jawa Barat, Pejabat Lingkup Pemerintah Kabupaten/Kota se- Provinsi Jawa Barat, Ketua DPRD, Unsur Muspida, para Kepala Kabupaten Ciamis, para Ketua Organisasi Profesi Peternakan, Tokoh Masyarakat dan para peternak se Jawa Barat serta beberapa wartawa baik dari media cetak maupun elektronik.

Tujuan dilaksanakannya kegiatan Kontes Ternak Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 ini adalah:
  • Memotivasi peternak untuk menyediakan replacement stock (bibit pengganti), bagi induk-induk yang sudah tidak produktif secara swadaya guna peningkatan daya saing produksi;
  • Memotivasi peternak untuk menyediakan replacement stock (bibit pengganti), bagi induk-induk yang sudah tidak produktif secara swadaya guna peningkatan daya saing produksi;
  • Memberikan penghargaan kepada para peternak untuk menghasilkan bibit yang unggul, yang mempunyai silsilah dan dipelihara dengan management yang baik sehingga performans ternak optimal optimal;
  • Sebagai salah satu upaya melestarikan dan mengembangkan plasma nutfah Jawa Barat (domba garut, ayam sentul dan sapi rancah );
  • Sebagai ajang peningkatan wawasan dengan adanya pameran dan pertemuan antara peternak, petugas dan stake holder peternakan di Jawa Barat;
  • Sebagai bahan evaluasi tahunan bagi para petugas terhadap perkembangan perbibitan ternak dan agribisnis yang berdaya saing di Jawa Barat;
Gubernur Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala BAPEDA, dalam sambutannya mengharapkan supaya peternak meningkatkan terus usaha peternakannya secara efisien dan berdaya saing untuk guna program pemerintah yaitu Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) Tahun 2014. Beliau juga meminta memperkuat/memperkokoh PUSKESWAN, yang kalau perlu kedepan ada Rumah Sakit Hewan.
(Sumber.Padjarnain.Subbag Kerjasama dan Humas.Bagian Perencanaan.Ditjen PKH)
Sumber : ditjennak.deptan.go.id

Minggu, 17 Juni 2012

Pembibitan Sapi Wagyu Kian Melaju

Berangkat dari Melbourne, Australia menggunakan pesawat MAS Cargo, sebanyak 9 ekor elite bull (pejantan terbaik) sapi red wagyu milik PT Sijiro International (Sijiro) – perusahaan patungan antara Mazda Wagyu International asal Australia dan pemerintah daerah Jawa Tengah yang fokus di pembibitan sapi red wagyu – itu sudah tiba di Indonesia sejak 1 Maret lalu. Elite bull berumur sekitar 1 tahunan itu kini sedang berada di instalasi karantina hewan sementara di Cianjur, Jawa Barat.

Setelah kedatangan elite bull itu, seperti diinformasikan Muladno yang konsultan pembibitan & genetik Sijiro, langkah berikut yang akan dilakukan Sijiro adalah mempersiapkan peralatan laboratorium untuk produksi semen beku, serta kandang untuk 100 ekor pejantan dan 300 ekor betina. Semua fasilitas Sijiro ini berlokasi di Temanggung, Jawa Tengah. Setelah semua fasilitas siap, baru lah Sijiro akan mendatangkan sapi red wagyu betina sebanyak 100 ekor, juga dari Australia. ”Datangnya kira-kira tahun depan. Tunggu kandang beres dulu,” kata professor ahli genetika ternak ini kepada TROBOS.

Lanjut Muladno, bila semua fasilitas siap dan sapi sudah datang, tahap selanjutnya adalah memproduksi semen beku. ”Produksinya ditargetkan sebanyak 3 juta semen beku per tahun. Semen-semen beku ini untuk kebutuhan pasar ekspor dan domestik. Harganya sekitar 300 ribu rupiah, ini hingga konsepsinya berhasil,” katanya.

Tak hanya memproduksi semen beku, Sijiro juga telah menarget untuk produksi embrio. ”Prosesnya, pejantan dan betina red wagyu yang sudah didatangkan tadi dikawinkan. Lalu embrio yang telah terbentuk dijual untuk ditransfer ke sapi betina lain. Embrio ini harganya sekitar US$ 3.000,” tutur Muladno. Terakhir, Sijiro juga akan menghasilkan sapi anakan yang nantinya akan dijual atau dijadikan sebagai replacement stock (stok pengganti). Khusus untuk sapi anakan jantan, bila akan dijual, dilakukan kastrasi terlebih dahulu.

Untuk memastikan silsilah keturunan sapi red wagyu Sijiro di Indonesia tertelusur (jelas recording-nya), kata Muladno, kesembilanelite bull itu masing-masing akan diberi nama, nama Indonesia. Nama-nama ini kemudian didaftarkan ke asosiasi sapi red wagyu di Australia. Seolah merangkum semua penjelasannya, kata Muladno, ”Jadi bisnis Sijiro ini adalah bisnis genetik. Fokus di semen beku, embrio, dan ternak murni. Kualitasnya tak akan berbeda dengan yang di Australia. Karena apa yang dilakukan di sana juga akan dilakukan di sini.”

Menarik Investor
Muladno berharap, apa yang dilakukan Sijiro ini bisa membuat investor asing lain tertarik untuk berinvestasi di pembibitan sapi di Indonesia. ”Investasi seperti Sijiro ini dapat meningkatkan perekonomian, menyerap tenaga kerja, dan sumber daya manusia pun jadi terdidik tentang pembibitan yang benar,” ujarnya.

Investasi serupa juga ada di pulau seberang, tepatnya di Lampung, PT Santosa Agrindo (Santori) terhitung sejak 2012 telah merintis usaha pembibitan sapi wagyu. Sedangkan penggemukannya telah dilakukan sejak 2010. Berbeda dengan Sijiro, sapi wagyu yang dikembangkan Santori adalah jenis black wagyu. Tutur Dayan Antoni - Asisten Presiden Direktur Santori, saat ini sudah ada 400 ekor bibit betina yang sedang bunting. Diperkirakan akan melahirkan pada awal Mei.

Kata Dayan, bibit-bibit betina itu didatangkan dari Australia, sedangkan semen beku yang digunakan untuk menginseminasi bibit betina tersebut ada yang didatangkan dari Australia dan Amerika Serikat. ”Bibit betina yang kami datangkan memang tidak tergolong superior, lebih pada bibit semi-komersial. Tapi semen beku yang kami datangkan dari Australia dan Amerika Serikat adalah kualitas terbaik,” jelas Dayan.

Dayan menilai, bisnis pembibitan sapi wagyu adalah bisnis yang bagus dan menguntungkan. ”Meski pembibitan itu tidak mudah dan biayanya mahal, tapi biaya mahal itu akan terbayar. Bandingkan dengan sapi lain, contohnya sapi brahman cross, ujung-ujungnya harga daging yang dijual akan sama dengan harga daging sapi biasa. Berbeda dengan daging sapi wagyu yang harganya premium. Apalagi daging sapi wagyu ini jadi tren baru di kota-kota besar di Indonesia,” bandingnya. Sebagai informasi, daging sapi wagyu keluaran Santori dijual seharga Rp 300.000 per kg-nya.

Secara jujur Dayan mengatakan, pembibitan sapi wagyu perusahaannya masih disubsidi, belum menguntungkan untuk saat ini. ”Meski demikian, kami punya komitmen jangka panjang. Kami melihat peluang masa depan dan harus dilakukan dari sekarang. Kalau tidak, akan bergantung dengan impor terus,” ia beralasan. Dayan berharap, usaha pembibitan yang baru dirintis ini kelak bisa mensubstitusi impor, bahkan bisa ekspor.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012
(sumber : trobos.com)

Jumat, 15 Juni 2012

WORKSHOP SMD PLUS 2012 : Apresiasi untuk SMD melalui Penguatan Jaringan Pemasaran dan Diversifikasi Usaha

Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian RI No:685/KPTS/OT.160/F/06/2012 tanggal 13 Juni 2012 tentang Penetapan Sarjana Membangun Desa (SMD) Plus dan Kelompok Terpilih tahun 2012, Tim Pelaksana SMD Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melaksanakan workshop penyusunan dokumen administrasi sekaligus pengarahan/penjelasan pedoman teknis Program SMD Plus Tahun 2012. Kegiatan workshop yang berlangsung di Hotel Purnama Jl. Raya Puncak Km 75 Bogor berlangsung pada tanggal 15 Juni 2012.

Workshop dihadiri oleh SMD dan Ketua Kelompok terpilih sebanyak 27 orang yang berasal dari Jawa Barat, Banten, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumut dan Jambi. Rangkaian acara workshop dibuka oleh Direktur Budidaya Ternak Ir. Fauzi Luthan. Sambutan pengarahan dan pembukaan Direktur Budidaya Ternak menitikberatkan pada peran dan fungsi SMD dalam pembangunan peternakan Indonesia yang harus memberi dampak tidak saja bagi kesejahteraan SMD dan Kelompoknya, tetapi juga harus mampu memberi dampak pada lingkungan masyarakat sekitarnya. Para SMD plus adalah SMD yang berasal dari Tahun 2007-2010 yang telah menunjukan kinerja dan perkembangan usaha yang cukup baik serta adanya peningkatan usaha kelompok. Oleh karena itu, SMD plus dengan dukungan pengembangan jaringan pemasaran dan diversifikasi usaha harus lebih mampu menunjukan eksistensi dan memberi dampak yang lebih besar lagi bagi kemajuan peternakan indonesia.

SMD diharapkan dapat berperan sebagai jaringan yang kuat serta memiliki posisi tawar yang tangguh dalam persaingan usaha peternakan. SMD harus mampu menjadi stabilisator harga dan menjamin ketersedian pasokan ternak untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Komoditas yang dikembangkan antara lain adalah sapi potong, kambing perah, sapi perah, kelinci dan itik. Khusus untuk komoditas sapi potong, saat ini SMD telah mampu memasok bakalan ke feedloter dengan harga yang cukup layak. “Tetapi para SMD harus cerdik juga dengan permainan harga, dan dapat secara bijaksana supaya tidak menguras betina-betina produktif untuk dijual ke pemotongan atau feedloter” demikian ditegaskan Ir. Fauzi Luthan.

Komoditas lain yang dikembangkan adalah kambing perah dan kelinci serta itik. Saat ini kelinci sedang dikembangkan sebagai komoditas alternatif penghasil daging, meski secara umum masyarakat masih “geli” mengkonsumsi daging kelinci. “perlu kampanye dan promosi yang gencar untuk mempopulerkan daging kelinci sebagai sumber protein hewani, selain sapi dan ayam” kata Ir. Fauzi Luthan. Komoditas itik saat ini juga sedang mengalami peningkatan trend dengan tingginya permintaan daging dan telur itik. Kondisi ini merupakan peluang sekaligus tantangan SMD sebagai wirausaha muda peternakan untuk mampu menjawabnya melalui kerja keras dan kinerja yang optimal dalam pengelolaan program SMD bersama-sama dengan kelompok. “kekompakan, saling percaya dan komitmen yang kuat antara SMD dan Ketua Kelompok adalah modal dasar untuk tetap eksis dan maju dalam kegiatan usaha ternak berbasis program SMD” demikian di tegaskan Ir. Fauzi Luthan. Ke depan para SMD juga harus bnisa mengembangkan variasi/ragam produk serta diversifikasi usaha yang mendukung kegiatan usaha pokok. Kelompok dan SMD juga harus senantiasa berkoordinasi dengan Dinas Teknis Peternakan di Kabupaten/Kota dan propinsi serta secara mandiri membangun jaringan dalam wadah Asosiasi SMD. “terkait dengan agenda workshop ini, penyusunan dokumen administrasi SMD Plus harus segera dituntaskan, supaya segera dapat diperoleh dana pengembangannya di Kelompok dan serapan anggaran serta pengembangan usaha kelompok dapat segera direalisasikan” demikian Ir. Fauzi Luthan mengakhiri sambutan pengarahannya sekaligus membuka cara workshop secara resmi. (wd)

Kamis, 14 Juni 2012

Sapi Rancah Ikon Baru Peternakan Jawa Barat

Sapi lokal Rancah bakal dijadikan sebagai salah satu ikon ternak di Provinsi Jawa Barat. Ternak yang merupakan plasma nutfah lokal tersebut nantinya bakal dikembangkan di kawasan Jawa Barat bagian selatan.

"Sapi rancah merupakan salah satu plasma nutfah yang perlu dilestarikan, untuk itu perlu upaya pengembangan secara maksimal. Nantinya sapi loka yang sampai saat ini lebih banyak diberi pakan alami tersebut , bakal menjadi salah satu ikon baru ternak Jabar," tutur Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Provinsi Jawa Barat, Deny Juanda.

Dia mengemukakan itu disela meninjau peserta Kontes Ternak atau pesta Patok tingkat Jawa Barat yang dipusatkan di Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Rabu (12/6). Dalam peninjauan ia didampingi Direktur Pakan Ternak Mursyid Ma'sum, Kepala Dinas Peternakan Prov. Jabar Koesmayadi, Bupati Ciamis Engkon Komara dan lainnya.

Pesta ternak yang berlangsung seoama dua hari tersebut menampilkan berbagai hewan ternak, seperti ayam sentul, domba garut, domba peranakan etawa, sapi unggul, termasuk kelinci, serta aneka peralatan sektor peternakan. Selain itu juga dilakukan kontes ternak.

Dia mengatakan untuk memasikan keunggulan sapi rancah, tambahnya masih perlu dilakukan penelitian mendalam oleh Tim Balai Riset Kementerian Pertanian dan instansi terkait lainnya. Yang pasti, lanjut dia sapi tersebut bakal dijadikan ikon ternak Jabar.

"Selama ini banyak ternak yang dikembangkan merupakan ikon ternak dari daerah lain. Ini saatnya untuk menunjukkan bahwa Jawa Barat juga memiliki sapi unggul Rancah," tuturnya.

Yang masih menjadi kendala, ia menmabhkan pengembangan ternak tersebut masih harus digelorakan ada seluruh komponen masyarakat. Selain itu juga dari sisi perekonomian wilayah Jawa Barat bagian selatan masih tertinggal dibandingkan dengan bagian tengah maupun Jawa Barat bagian utara. Salah satu kendalanya adalah karena infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan.

"Kami membangun infrastruktur untuk menghubungkan antara wilayah utara tengah dan selatan. Dengan demikian nantinya seluruh wilayah menjadi terintegrasi dan menyambung. Dengan kondisi infrastruktur yang baik, akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat," tuturnya.

Sementara itu Bupati Ciamis Egkon Komara mengatakan saat ini masih terbuka lebar peluang untuk pengembangan bidang peternakan. Selain sapi, wilayah tatar Galuh Ciamis masih menjadi pusat atau sentra ternak ayam potong. Sampai saat ini Ciamis masih menjadi pemasok ayam potong nomor dua di Jawa Barat setelah Bogor.

"Perputaran uang untuk peternakan ayam potong mencapai Rp 2 triliun per tahun. Untuk mengoptimalkan sektor peternakan, pembangunan infrastruktur wilayah Jawa Barat bagian selatan tidak boleh tertinggal dibandingkan utara maupun tengah. Banyak sekali potensi yang belum berkembang maksimal, akibat terkendala oleh infrastruktur," katanya.

Berkenaan dengan pengembangan sapi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Koesmayadie pengembangan pertenakan sapi di Jawa Barat sekitar 40 persen dipasok dari wilayah Jawa Barat bagian selatan. Hal tersebut berkenaan dengan besarnya potensi peternakan di wilayah itu. Selain pengebangan sapi unggul impor dan lokal juga masih tinggi ternak kerbau.

"Apabila dikembangkan lebih intensif dan meluas, bukan tidak mungkin Jawa Barat mampu melakukan swasembada daging. Semua dipasok dari produk lokal," tuturnya.

Dia mengatakan bahwa kegiatan kontes ternak tersebut juga dimaksudkan memberi motivasi bagi petani untuk menyediakan bibit unggul. Selain itu juga sebagai upaya untuk mengembangkan serta melestarikan plasma nutfah Jawa Barat ayam sentul dan sapi Rancah. "Untuk mencegah agar tidak sampai punah, sudah waktunya untuk lebih mengembangkan serta melestarikan plasma nutfah lokal. banyak sekali keunggulan plasma lokal tersebut," utrnya.(A-101/A-89)
(Sumber : pikiran-rakyat.com)

Rabu, 13 Juni 2012

Kejuaraan Seni Ketangkasan Domba pada Ajang Kontes Ternak Se-Jabar

sumber : mypangandaran.com
Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jabar bekerja sama dengan DPD HPDKI Jabar menggelar kontes ternak tingkat provinsi Jabar tahun 2012 di lapang Departemen Sosial (Depsos) Pamugaran, Desa Wonoharjo, Pangandaran, Ciamis, Selasa (12/6/2012). Kontes ternak yang diikuti dari berbagai daerah se-Jawa Barat.

Dalam kontes ternak tersebut diperkenalkan berbagai ternak unggulan, ternak bermutu, dan bibit ternak hasil budidaya yang akan dinilai dan diberikan penghargaan bagi para peternak atau pun peserta. Kontes pun dimeriahkan dengan adu ketangkasan domba dari para peternak domba di Tatar Sunda se-Jawa Barat.

"Setiap kontingen dikoordinasi oleh pengurus DPC-nya masing-masing. Dan kami juga mengimbau kepada seluruh peternak untuk menjadikan kegiatan ini sebagai ajang pembuktian hasil budidaya domba berkualitas," kata salah seorang anggota panitia Hendra kepada INILAH.COM di lokasi kegiatan, Selasa (12/6/2012).

Hendra mengatakan, kontes ternak dibagi menjadi empat kategori. Yakni Raja Petet Jantan (maksimal punglak dua), Raja Kasep Calon Pejantan (maksimal punglak empat), Ratu Bibit (maksimal punglak empat), dan Raja Pedaging (maksimal punglak empat). Khusus untuk kontes ternak, kontingen tidak dipungut biaya pendaftaran alias gratis.

"Kontes ternak tersebut akan dimeriahkan dengan Kejuaraan Seni Ketangkasan Domba (SKD) terbuka dengan menyediakan hadiah utama berupa seekor sapi potong untuk Jawara Pinilih dari seluruh kelas. Sedangkan untuk juara 1 sampai 6 di tiap kelas, panitia menyiapkan barang elektronik dan hadiah menarik lainnya," tambahnya.

Ketua Panitia Asep Noordin menuturkan, kontes ternak ini, lanjutnya, khususnya untuk di adu ketangkasan domba di ikuti sebanyak 210 ekor domba yang dari beberapa kabupaten/kota. Seperti KBB, kota Bandung, Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Sumedang, Bogor, Ciamis, Subang, dan Cianjur.

Acara yang akan berlangsung selama dua hari, hingga Rabu (13/6/2012) dan rencananya akan di hadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Bupati Ciamis Engkon Komara. [ang]
(Sumber : inilahjabar.com)

Selasa, 12 Juni 2012

Informasi Ajang Kontes Ternak Tingkat Jawa Barat 2012

Ratusan peternak sapi dan kambing dari berbagai daerah di wilayah jawa barat meriahkan kontes ternak tingkat provinsi di kabupaten ciamis jawa barat. Dalam kontes tersebut para peserta bersaing secara ketat menampilkan keunggulan hewan ternaknya, salah satu diantaranya bahkan menampilkan hewan ternak yang berwajah aneh dan mengundang rasa penasaran warga dan dewan juri pada kontes tersebut.

Pagelaran kontes ternak se-provinsi jawa barat tahun 2012 yang di gelar di kabupaten ciamis ini terlihat lebih ramai di bandingkan dengan kontes-kontes ternak sebelumnya. Selain menampilkan sejumlah hewan ternak seperti sapi dan kambing dengan kondisi yang menarik,pada kontes ini juga di gelar kontes adu tangkas domba garut.

Sejumlah peserta adu tangkas domba garut ini terlihat bersemangat mengadu hewan peliharaannya untuk bertarung dengan peserta lain, bunyi musik tradisional khas sunda pun semakin membuat suasana di arena ini semakin meriah dan di padati para pengunjung yang ingin menyaksikan jalannya lomba.

selain dari segi ketangkasan,domba-domba yang diikutkan dalam kontes ini pun di nilai dari segi penampilan fisik dengan berbagai aksesoris yang menarik. salah seorang peserta kontes asal garut,Fauzan mengaku dirinya sering mengikuti kontes ini karena hadiah yang di sediakan sangat menarik,ia berharap agar pada kontes kali ini dirinya dapat membawa pulang hadiah.

pada kontes ini juga di perlombakan hewan ternak sapi,berbagai sapi unggulan dan bermutu di tampilkan para peternak yang berasal dari berbagai wilayah di jawa barat ini,hewan ternak dengan kondisi yang sehat dan mempunyai bobot berat yang bagus akan keluar sebagai pemenang kontes ini.

Selain jenis hewan ternak sapi terlihat para peternak juga membawa kambing jenis PE,kambing dengan wajah aneh mirip unta tersebut tak ayak menjadi tontonan menarik bagi para pengunjung di kontes hewan ternak tingkat provonsi jawa barat tersebut. ( Irfan Spox )
(Sumber : tvberita.com)

Kontes Ternak Se-Jabar Berlangsung di Pangandaran, 12-13 Juni 2012

Kontes ternak tingkat Provinsi Jawa Barat di gelar hari ini (12/06), acara yang diikuti dari berbagai daerah se-Jawa Barat di laksanakan di Departemen Sosial Pamugaran Kecamatan Pangandaran, dalam kontes ternak di perkenalkan beberagai ternak unggulan, ternak bermutu, dan bibit ternak hasil budidaya yang akan dinilai dan diberikan penghargaan bagi para peternak.

Acara yang berlangsung selama dua hari yaitu 12 sampai 13 Juni 2012 rencananya akan di hadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Bupati Ciamis Engkon Komara, dari pantauan sementara myPangandaran, hari ini (12/06) adalah penilaian dan penjurian bagi para peserta Kontes Ternak Tingkat Propinsi Se-Jawa Barat.

Salah satu ternak yang di konteskan adalah Domba. Domba khas Jawa Barat yang lebih dikenal dengan Domba Garut sudah diakui sebagai plasma nutfah terbaik di dunia. Sehingga pengembangannya harus dilakukan secara integral, mulai dari pemilihan pejantan, induk, hingga pada saat kontes. “Harga pejantan domba Garut dengan kualitas kontes, dapat mencapai Rp 75 juta,” ujar Ketua Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Jawa Barat Yudi Guntara Noor saat menemui Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersam jajaran Pengurus HPDI lainnya di Gedung Negara Pakuan Jalan Otista No : 1 Bandung, Rabu (25/1/2012-bogornews.com).

Dalam kesempatan itu, Yudi menyampaikan keinginan agar ada lokasi bagi kegiatan kontes domba tingkat Jawa Barat. Menurutnya dengan kegiatan kontes domba diharapkan semakin mendongkrak usaha domba, khususnya domba Garut di Jawa Barat.

Lebih lanjut Yudi menjelaskan, saat ini ada 4 kawasan di Jawa Barat yang dinilai masih murni dalam pengembangan domba Garut, yakni; Sumedang, Bandung, Garut dan Kota Bandung.

Mendengar penjelasan tersebut Gubernur menyatakan niatnya untuk mendukung upaya pengembangan usaha domba Garut. Bahkan Heryawan berjanji akan menyebarkan domba Garut sebanyak mungkin.

Saat ini, menurut Yudi, jumlah peternak domba di Jawa Barat mencapai 800.000 orang dengan jumlah domba mencapai 5,6 juta ekor. Untuk itu kedepan, HPDKI mengharapkan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membantu dalam penyediaan bibit yang berkualitas.

Menanggapi hal itu, Heryawan setuju agar ada program terobosan bagi penyediaan anakan domba yang berkualitas. Sehingga para peternak mendapatkan domba dengan kualitas baik. “Saya inginkan agar domba Garut menjadi domba Jawa Barat. Selain kualitasnya yang diakui dunia, juga harga jualnya yang selangit. Sehingga diharapkan mampu mendongkrak taraf hidup peternak,” ujar Heryawan.

"Domba Garut merupakan plasma nutfah terbaik di dunia. Domba yang tergolong Ruminansia kecil menjadi paling diminati warga dunia. Tentu kita wajib melestarikannya, agar domba Garut original tidak sampai punah," terangnya.

Untuk maksud itu, rencananya Pemprov Jabar akan menggandeng HPDKI yang dianggap paling paham terhadap persoalan tersebut. Heryawan menjelaskan, sedikitnya ada tiga jenis domba yang dapat dirutkan berdasarkan kualitas ekonomis, yakni domba ketangkasan, domba kurban dan domba pedaging.
(Sumber : mypangandaran.com dan bogornews.com)

Senin, 11 Juni 2012

Pemerintah Kucurkan Insentif Bagi Sapi Bunting

Peternak sapi dan kerbau akan mendapatkan insentif dari pemerintah. Dengan catatan, sapi dan kerbau tersebut dalam kondisi bunting (hamil) di atas lima bulan. Setiap sapi dan kerbau yang bunting akan mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 500 ribu.

Staff Produksi Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Karawang Slamet Yuliyadi mengatakan, tahun ini Karawang mendapatkan alokasi 800 ekor sapi dan kerbau. Insentif tersebut, bersumber dari anggaran pusat (APBN).

"Insentif ini merupakan angin segar bagi peternak," kata Slamet kepada Republika, Senin (11/6).

Disebutkan dia, populasi sapi dan kerbau akhir-akhir ini mengalami penyusutan. Tak hanya di Karawang, di berbagai daerah lain juga kondisinya serupa. Saat ini, populasi sapi dan kerbau sekitar 12 ribu dari 30 kecamatan yang ada. Kantung-kantung kedua hewan ternak itu di antaranya di Kecamatan Pangkalan, Teluk Jambe Barat, dan Tegalwaru.

Untuk mengantisipasinya, pemerintah menggulirkan program swasembada daging sapi dan kerbau (SDSK). Tujuannya, untuk meningkatkan populasi kedua hewan ternak tersebut.

Mekanismenya, peternak yang mendapat insentif harus menjadi anggota kelompok. Setiap kelompok, nantinya melaporkan ke dinas jumlah sapi dan kerbau yang sedang bunting.

Kemudian, dinas menerjunkan tim reproduksi. Tim ini, akan menyurvei keabsahan hewan yang bunting itu. Jika hasil survei tim ini positif, maka hewan tersebut akan dilaporkan ke dinas terkait di provinsi.

Untuk selanjutnya, tim dari provinsi akan turun mengkroscek kebenarannya. Jika sesuai, maka insentif tersebut akan segera di transfer ke rekening kelompok. Dengan kata lain, insentif ini tidak melalui dinas di kabupaten melainkan dari pusat kemudian transit di provinsi lalu ditransfer ke kelompok.

"Provinsi berperan sebagai satuan kerja. Kalau kabupaten, hanya tim surveyor," jelasnya.
(Sumber : republika.co.id)

Mengenal Domba Garut

Menurut para pakar domba seperti Prof Didi Atmadilaga dan Prof Asikin Natasasmita, Domba Garut hasil persilangan antara domba lokal. Domba Ekor Gemuk dan Domba Merino dibentuk sekitar pertengahan abad ke 19 (±1854), dirintis Adipati Limbangan Garut, sekitar 70 tahun kemudian (1926). Domba Garut menunjukan suatu keseragaman. Bentuk tubuh Domba Garut hampir sama dengan domba lokal dan bentuk tanduk yang besar melingkar diturunkan dari Domba Merino, tetapi Domba Merino tidak memiliki “insting” beradu.

Berat badan domba bisa mencapai 40 sampai 80 kg. Menurut beberapa ahli, Domba Garut selain memilki keistimewaan juga sebagai penghasil daging sangat baik dalam upaya meningkatkan produksi ternak domba. Jenis Domba Garut tergolong jenis domba terbaik, bahkan perdagangannya dan paling cocok serta menarik perhatian banyak masyarakat, mudah dipelihara petani kecil karena relatif lebih mudah pemeliharaannya dan lebih cepat menghasilkan serta mudah diuangkan.

Domba Garut sesuai namanya berasal dari Kabupaten Garut tepatnya di daerah Limbangan, kemudian berkembang dan kini menyebar ke seluruh pelosok Jawa Barat khususnya dan seluruh Indonesia umumnya. Bentuk umum Domba Garut, tubuhnya relatif besar dan berbentuk persegi panjang, bulunya panjang dan kasar, tanduk domba jantan besar dan kuat serta kekar (merupakan modal utama dalam seni ketangkasan domba).

Keistimewaan dengan tanduk besar melingkar ke belakang dan bervariasi, badan padat, agresivitasnya tinggi sehingga memilki temperamenindah dan unik. Ciri khas Domba Garut pangkal ekornya kelihatan agak lebar dengan ujung runcing dan pendek, dahi sedikit lebar, kepala pendek dan profil sedikit cembung, mata kecil, tanduk besar dan melingkar ke belakang. Sedangkan betina tidak bertanduk, telinga bervariasi dari yang pendek (ngadaun hiris) sampai yang panjang dan memiliki warna bulu beraneka ragam. Domba Garut banyak dijumpai memiliki daun telinga rumpung, sedangkan yang memiliki daun telinga panjang dikenal dengan domba “BONGKOR” .

Untuk mendapat Domba Garut yang baik harus dimulai dari betina yang kualitasnya sangat bagus, pejantan dari keturunan Domba Garut memiliki performa baik pula. Para tokoh domba memelihara Domba Garut memiliki karakter berbeda dalam merawatnya mulai dari anakan sampai dewasa (siap tanding).

Anak Domba Garut yang dipilih dijadikan domba tangkas harus diberikan latihan beradu dan berlaga di lapangan, tanpa diberi pelatihan Domba Garut tersebut tidak akan memiliki unsur seni di lapangan, sehingga tidak indah dipandang ketika berlaga, yaitu mengenai langkah mundur dan langkah maju atau“Tembragan” atau tubrukannya tidak baik.

Hingga kini, Domba Garut tetap memiliki unsur seni digemari dan merupakan ternak kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Domba Garut sebagai domba kesayangan, setiap hari Minggu selalu diadakan kontes atu pemidangan di setiap daerah di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Garut, event ketangkasan Domba Garut digelar dalam hari besar nasional, hari ulang tahun seperti hari jadi Garut, HUT TNI, HUT Kemerdekaan RI. Kekeluargaan para penggemar Domba Garut khususnya di Jawa Barat diikat dengan organisasi profesi, yaitu HPDKI, sehingga setiap kali digelar mereka dengan mudah untuk melakukan pertemuan di lapangan atau tempat pemidangan, khusus dibuat sebagai event Kontes Ternak Domba Garut berlaga.

Istilah Domba Garut
  • Adeg-adeg : Kesesuaian postur tubuh mulai dari badan sampai kaki atau bentuk umum performa fisik yang dinilai dari fostur (kekokohan badan, leher dn kepala), jingjingan (bentuk, ukuran dan letak tanduk), ules (bentuk di raut muka).
  • Baracak : Kombinasi warna kulit domba dengan dominasi hitam atau abu-abu dan bercak-bercak kecil putih Yang tidak teratur pada sekujur atau sebagian tubuhnya.
  • Baralak : Jenis bulu domba yang mirip dengan bercak yang ukurannya lebih besar.
Seni ketangkasan Domba Garut, salah satu kegemaran tersendiri disenangi serta ternak domba Garut dapat dikategorikan sebagai hewan kesayangan serta hewan kebanggaan. Domba Garut dipelihara secara khusus, artinya dengan perlakuan pemeliharaannya khusus terutama membentuk tanduk agar memiliki temperamen indah dan gagah, sehingga tercipta motto tentang domba garut, ” Tandang di Lapang, Gandang di Lapang, Indah Dipandang serta Enak Dipanggang”.

Seni ini, ajang kontes memilih bibit sebagai raja dan ratu bibit ternak domba Garut, karena setiap event pertandingan ternak domba bagus sangat mendapat sorotan setiap peternak dan penggemar, dengan sendirinya ternak ini memiliki harga sangat tinggi.
(Sumber : newswisata.blogspot.com)

Minggu, 10 Juni 2012

Pertemuan Sarjana Membangun Desa (SMD) Propinsi Jawa Barat

Pada hari Kamis tanggal 7 Juni 2012, bertempat di Ruang Rapat Bos Sondaicus Kantor Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, sekitar 70 orang Sarjana Membangun Desa (SMD) se Propinsi Jawa Barat mengadakan pertemuan untuk konsolidasi dan pembinaan. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat Ir. Koesmayadi TP, dengan sambutan dan pengarahan yang meinitikberatkan pada pentingnya kebersamaan dan integrasi yang kuat para Sarjana Membangun Desa sebagai pemuda-pemuda potensial untuk membangun peternakan Jawa Barat. Lebih lanjut Ir. Koesmayadi TP mengatakan bahwa terlepas dari adanya para Sarjana Membangun Desa yang bermasalah dalam pengelolan/pelaksanaan Program SMD di kelompoknya, peran para Sarjana telah memberi dampak positif bagi pengembangan peternakan di Jawa Barat. “Perlu integritas dan komitmen untuk mematuhi aturan dan ketentuan program, para SMD juga harus bersatu padu membangun kekuatan serta kebersamaan, bisa saja diagendakan Jambore SMD Jawa Barat untuk lebih mengikat silaturahmi dan kebersamaan para SMD” demikian ditandaskan Ir. Koesmayadi.

Ir. Albert Tangkawarouw, MM, Kasubdit Kelembagaan Usaha Peternakan dari Direktorat Budidaya Ternak Ditjennakkeswan, menyampaikan bahwa secara nasional hasil penilaian tahun 2011, keberhasilan SMD di Jawa Barat berada pada urutan ke 4 setelah NTB, Jawa Timur dan DIY. Terkait dengan kontribusi program SMD terhadap PSDSK 2014, Ir. Albert mengatakan bahwa kontribusinya masih belum signifikan, sehingga ada wacana bahwa pada tahun 2013 program SMD akan dimoratorium. Terkait dengan kelembagaan, keberadaan dan peran Asosiasi SMD diharapkan lebih mampu menunjukan eksistensi dan keberhasilan program SMD. Asosiasi juga dapat menjadi mitra untuk senantiasa berkoordinasi dengan Dinas/Instansi terkait.

Menurut Budi Susilo (SMD Tahun 2009, Komoditas Sapi Potong Kelompok Mitra Maju Kabupaten Bogor), keberhasilan usaha kelompok SMD tidak terlepas dari kemampuan Sarjana terkait dalam perannya sebagai manajer usaha. Sarjana Membangun Desa harus memiliki kemampuan manajerial terkait dengan sistem keberlanjutan usaha, tata cara berproduksi, standarisasi harga dan jaringan pasar. Sementara itu, Nengsih Kumala Sari (SMD Tahun 2010, Komoditas Kelinci Kelompok Bina Tani Kabupaten Bogor), menyoroti pada aspek diversivikasi produk dan kebersamaan usaha. “Terutama untuk komoditas kelinci yang secara nasional belum menjadi komoditas unggulan, maka untuk bisa survive dan diakui perlu perjuangan yang berat” katanya. Nengsih Kumala Sari telah melakukan pengolahan daging kelinci dalam bentuk Nugget, Sosis, Baso dan Tahun serta membentuk Koperasi Peternak Kelinci sebagai wadah integrasi usahanya.

Pertemuan Sarjana Membangun Desa Propinsi Jawa Barat, juga menghadirkan pembicara dari P3UKM Bank Indonesia Kantor Bandung. Billy dari P3UKM memberikan arahan tentang bagaimana kelompok-kelompok usaha dapat mengakses perbankan untuk pengembangan kapasitas usaha (permodalan). Pembicara dari Asosiasi Chef Indonesia menekankan pada pentingnya kreativitas dalam mengolah hasil peternakan menjadi produk yang berdaya saing. “sampai kapan pun produk peternakan akan senantiasa dibutuhkan masyarakat, karena terkait dengan kebutuhan perut, namun perlu dikembangkan kreativitas dan diversifikasinya supaya produk pangan hasil ternak cocok dengan minat dan kebutuhan masyarakat tersebut”, demikian di tegaskan Weddy.

Agenda lain yang lebih penting dari Pertemuan SMD Jawa Barat ini adalah konsolidasi dan pembentukan Asosiasi Sarjana Membangun Desa Propinsi Jawa Barat. Melalui pertemuan khusus dan intensif yang melibatkan perwakilan-perwakilan dari 4 wilayah se Jawa Barat (Wilayah Bogor, Priangan, Purwasuka, dan Cirebon), maka secara musyawarah mufakat terbantuklah Asosiasi Sarjana Membangun Desa di tingkat Propinsi Jawa Barat di beri nama Asosiasi Sarjana Membangun Desa Propinsi Jawa Barat (ASMD JABAR). Pembentukan ASMD JABAR diarahkan sebagai wadah bersama SMD, untuk (1) Koordinasi kelembagaan yang didasarkan pada basis wilayah dengan mengangkat dan menetapkan Para Ketua Wilayah sebagai Pengurus ASMD JABAR, untuk posisi Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara. (2). Koordinasi produksi dan pemasaran yang didasarkan pada basis komoditas dengan mengangkat dan menetapkan Pengurus sebagai Koordinator Komoditas, untuk komoditas sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing/domba, unggal lokal dan kelinci. Pengurus ASMD JABAR, Koordinator Komoditas dan Pengurus Wilayah, akan melaksanakan agenda konsolidasi untuk menyusun dan menetapkan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Program Kerja ASMD JABAR sekaligus dikukuhkan pada Agenda Pesta Patok 2012 di Pangandaran pada tanggal 12-13 Juni 2012.

Susunan Pengurus ASMD JABAR adalah sebagai berikut :
  • Ketua : Wahyu Darsono 
  • Wakil Ketua : Bonny Irvan Faisal 
  • Sekretaris : Oky Apriyadi 
  • Bendahara : Maptuhul Ilahi 
  • Koordinator Komoditas Sapi Potong : Maman Diana 
  • Koordinator Komoditas Sapi Perah : Lian Kusnadi 
  • Koordinator Komoditas Kambing/Domba : Ajat Sudrajat 
  • Koordinator Komoditas Kerbau : Burhanuddin 
  • Koordinator Komoditas Unggas Lokal : Yayat Supriyatna 
  • Koordinator Komoditas Kelinci : Nengsih Kumala Sari

Kelompok SMD Binatani Meretas Olahan Daging Kelinci

Cepat berkembang biak dan tidak membutuhkan lahan luas untuk budidaya membuat kelinci berpotensi sebagai alternatif penyedia protein hewani. Sayangnya, sampai sekarang kebayakan pemeliharaan kelinci hanya terbatas sebagai hobi. Karena itu Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor menggandeng Koperasi Peternakan Kelinci berusaha membina masyarakat di Desa Gunung Mulia, Kec. Tenjolaya, Kab. Bogor, untuk menjadi lebih baik.

Kampung Kelinci
Desa Gunung Mulia termasuk salah satu pemasok kelinci pedaging untuk wilayah Bogor dan sekitarnya. Anakan-anakan kelinci dari desa pemekaran Desa Gunung Malang ini dinanti para pedagang di sepanjang pinggir jalan Kebun Raya Bogor. “Yang pinggiran kebun raya itu banyaknya dari sini (Desa Gunung Mulia),” Drh. H. Soetrisno, MM, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor memastikan. Berkat tingginya permintaan kelinci itulah di Gunung Mulia terbentuk kelompok-kelompok yang sudah turun temurun mengembangbiakkan si telinga panjang.

Syarat suatu daerah menjadi Kampung Kelinci minimal 40 persen kepala keluarga (KK) memelihara kelinci. Desa Gunung Mulia memang layak dijadikan Kampung Kelinci karena 80 persen KK di sana beternak kelinci. “Empat puluh persen yang sudah (punya) lebih dari 20 ekor induk, yang lainnya masih sambilan. Nanti kita tingkatkan yang sambilan ini jadi skala usaha semua,” terang Soetrisno.

Untuk mensukseskan Program Kampung Kelinci, sejak tiga tahun silam pemerintah sudah membagikan 200 ekor induk per kelompok. Tidak cukup sampai disitu Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor juga akan menggarap Desa yang terletak di kaki gunung salak ini menjadi salah satu pusat agrowisata di Kota Hujan. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan dibangun gerai-gerai untuk memasarkan produk kelinci, baik berupa kulit, fur maupun daging.

Pengolahan Kelinci
Bila produksi cukup tinggi, pengolahan diupayakan untuk menggerek harga jualnya. Dulu olahan daging kelinci sebatas sate dan gulai. namun sekarang berbagai varian bisa ditemukan, seperti rendang, kelinci kecap, sup kelinci, nugget, bakso dan tahu kelinci.

Nengsih Kumala Sari, pengolah daging kelinci dari Kampung Sindang Barang Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamasari Kabupaten Bogtor menyayangkan belum membuminya produk olahan kelinci. "Proteinnya bagus, tetapi orang mau beli tidak sanggup," ungkap Manager Binatani Rabbitry, Kelompok peternak kelinci yang diakselerasi kegiatan usaha tani ternaknya melalui Program Sarjana Membangun Desa (SMD) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan tahun 2010. Lebih lanjut, kelompok Binatani Rabbitry juga bersama-sama dengan Sarjana-Sarjana pada Program SMD Komoditas Kelinci lainnya di Kabupaten Bogor menjadi pioner pembentukan Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) -www.kopnakci.blogspot.com-

Mengutip hasil penelitian di London, daging kelinci menyimpan protein 21,9 gram per 100 gram, sedangkan protein daging sapi sebesar 22,5 gram per 100 gram. Namun daging kelinci mengandung lebih sedikit kolesterol, 53 mg per 100 gram ketimbang daging sapi 58 mg per 100 gram. Selain rendah kolesterol, daging kelinci juga mengandung natrium tinggi, yaitu 67 mg per 100 gram. Sementara natrium pada daging sapi cuma 63 mg per 100 gram. Natrium sangat diperlukan tubuh, bila kekurangan natrium, tekanan darah akan menurun, denyut jantung meningkat, pusing, kadang-kadang disertai kram otot, lemas, lelah, kehilangan selera makan, daya ingat menurun, daya tahan terhadap infeksi menurun, luka sukar sembuh, gangguan penglihatan, rambut tidak sehat dan terbelah ujungnya serta terbentuknya bercak-bercak putih di kuku. Melihat kelebihan kandungan nutrisi daging kelinci tersebut, Nengsih Kumala Sari dan kawan-kawan mencoba membuat inovasi olahan berupa camilan Tahu Kelinci. "Alhamdulilah bisa tercapai. Harganya Rp. 5.000/bungkus," ucapmya semringah. Selain itu, mereka juga menyiapkan produk lain. "Kita bikinm masakan ungkep yang benar-benar daging kelinci semua," terangnya.

Dengan modal awal yang terhitung kecil sekitar Rp. 500 ribu, Nengsih membeli 10 ekor kelinci, dari 10 ekor ini, ia menghasilkan 50 potong daging kelinci ungkep. Sepotong daging dijual Rp. 15 ribu. JAdi ia memperoleh pemasukan Rp. 750ribu. ia tidak terlalu berhitung soal bumbu dan biaya operasional lainnya karena kalau memproduksi banyak tentu bisa ditekan. Apalagi ia juga sudah mulai mendapat pesanan kelinci ungkep utuh. Usaha kecil Nengsih tersebut telah menunjukan hasil yang positif. Karena pada Oktober 2011, Wakil Bupati Bogor memberikan penghargaan kepada Binatani Rabbitry sebagai Pembudidaya dan Pengolah Aneka Makanan Daging Kelinci Program Sarjana Membangun Desa.
(Sumber : Agrina Vol 7 No. 165, 22 November 2011 Halaman 17/Ratna Budi Wulandari)

Eceng Gondok sebagai Bahan Pakan Itik Petelur

Ternak itik berpotensi besar untuk dikembangkan, karena mampu memproduksi telur yang tinggi, tidak mengerami telurnya, harganya relatif stabil dan pemasaran telur relatif murah. Salah satu faktor yang paling menentukan dalam usaha ternak itik adalah faktor makanan sebagai kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi bagi kelangsungan hidup dan proses biologis di dalam tubuh ternak.

Eceng gondok merupakan gulma air yang sering merusak lingkungan dan tidak dimanfaatkan dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan makanan yang bisa menekan harga ransum. Pemberian eceng gondok pada makanan itik itu, tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap produksi telur baik dari segi berat maupun jumlah butirnya. Penggunaan eceng gondok itu berpengaruh terhadap warna kuning telur dan tebalkulit telur.

Salah satu alternatif pemanfaatan eceng gondok adalah dimanfaatkan sebagai bahan pakan karena kadar protein kasarnya tinggi (11,2%). Kendalanya adalahi kecernaan nutriennya rendah, sehingga perlu pengolahan, salah satunya dengan fermentasi dengan Aspergilus niger. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam amino dan kecernaan nutrien eceng gondok yang difermentasi dengan Aspergilus niger pada itik Tegal jantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada asam amino aspartat, dimana asam aspartat daun eceng gondok tanpa fermentasi sebesar 2,03% dan 1,4% pada hasil fermentasi. Kecernaan bahan organik berbeda nyata antara yang difermentasi (37,31%) dan tidak difermentasi (30,15%). Sedangkan kecernaan serat kasar tidak berbeda nyata antaradaun eceng gondok yang difermentasi ( 36,48%) dan yang tidak difermentasi (33,24%). Kesimpulan yang diambil adalah fermentasi daun eceng gondok dengan Aspergillus niger tidak meningkatkan kandungan asam amino dan kecernaan serat kasar, tetapi mampu meningkatkan kecernaan bahan organik pada ternak itik.

Sementara itu, hasil penelitian di BPTP Minahasa Sulsel, menunjukan bahwa selama ini kualitas telur untuk perlakuan kontrol (pakan basal) berat telurnya rata-rata 57,7 gram/butir dan untuk perlakuan yang diberi makanan eceng gondok mencapai 59,19 gram/butir.Kontrol adalah 7,29 dan pada perlakuan yang diberi daun eceng gondok adalah 9,10. Kemudian persentase berat kuning telur pada perlakuan kontrol 35,16 persen dan 35,99 persen pada pemberian daun eceng gondok. Rata-rata persentase berat putih telur pada perlakuan kontrol adalah 46,76 persen dan perlakuan dengan pemberian daun eceng gondok adalah 48,69 persen.

Pada perlakuan kontrol (pakan basal), itik diberikan ransum basal dengan kandungan protein kasar 16,06 persen dan energi metabolisme 2544,22- kilo kalori/kg ransum. Melalui pemberian daun eceng gondok pada makanan itik diperoleh konsumsi ransum berdasarkan bahan kering sebanyak 111,79 gram/ekor/hari.Eceng gondok dapat diberikan sampai 10 persen dalam ransum.

Cara pemberiannya ransum basal ditambah daun eceng gondok dalam keadaan segar. Guna menjaga kesegaran dari daun eceng gondok, sebaiknya pengambilan dari lokasi dilakukan setiap pagi. Sebelum diberikan, daun terlebih dahulu dicincang hingga kecil.
(Dari berbagai sumber)

Tepung Bulu sebagai Bahan Baku Pakan

Salah satu produk limbah yang tersedia dalam jumlah banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku pakan adalah bulu ayam/unggas. Bulu ayam berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional seperti bungkil kedele dan tepung ikan. Bulu-bulu itu dapat dimanfaatkan untuk campuran pakan ruminansia, non ruminansia, dan unggas. Dukungan ketersediaan limbah berupa bulu sangat terjamin kontinuitasnya sehubungan jumlah ayam yang dipotong dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga bulu ayam yang dihasilkan juga meningkat. Pemanfaatan limbah bulu menjadi pakan ternak sangat memberikan dampak positif karena sekaligus mampu mengatasi permasalahan limbah bulu apabila tidak dikelola dengan baik.

Bulu ayam mengandung protein kasar sekitar 80-91 % dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai 42,5 % dan tepung ikan 66,2 % (Anonimus, 2003). Namun, kandungan protein kasar yang tinggi tersebut tidak diikuti oleh nilai biologis yang tinggi. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Nilai kecernaan yang rendah disebabkan bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke dalam protein serat. Keratin merupakan protein yang kaya asam amino bersulfur, dan sistin. Ikatan disulfida yang dibentuk di antara asam amino sistin menyebabkan protein bulu sulit dicerna, baik oleh mikroorganisme rumen maupun enzim proteolitik dalam saluran pencernaan pasca rumen. Keratin dapat dipecah melalui reaksi kimia dan enzim sehingga pada akhirnya dapat dicerna oleh tripsin dan pepsin di dalam saluran pencernaan. Oleh karenanya, bila bulu ayam akan dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber protein, sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kecernaannya. Tepung Bulu Terolah/ Terhidrolisa sebagai bahan pakan harus melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu dan hasilnya inilah yang dinamakan tepung bulu terolah sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pakan asal hewan yang potensial untuk mengurangi harga ransum yang berasal dari pemanfaatan limbah.

Berbagai metode pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrien bulu unggas, yaitu 1) perlakuan fisik dengan pengaturan temperatur dan tekanan, 2) secara kimiawi dengan penambahan asam dan basa (NaOH, HCL), 3) secara enzimatis dan biologis dengan mikroorganisme dan 4) kombinasi ketiga metode tersebut. Hidrolisat bulu ayam adalah bahan pakan sumber protein yang dapat diproduksi secara lokal dengan kandungan protein kasar sebesar 81−90,60% (NRC, 1985; Sutardi, 2001 dalam Siregar, 2005). Protein hidrolisat bulu ayam kaya asam amino bercabang yaitu leusin, isoleusin, dan valin dengan kandungan masing-masing sebesar 4,88, 3,12, dan 4,44%, namun defisien asam amino metionin dan lisin. Untuk memenuhi kebutuhan asam lemak rantai cabang bagi pertumbuhan bakteri selulolitik maka dilakukan suplementasi hidrolisat bulu ayam sebagai sumber asam amino rantai cabang yang berperan sebagai prekusor asam lemak rantai cabang.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan nilai biologis bulu ayam dapat ditingkatkan dengan pengolahan dan pemberian perlakuan tertentu. Contoh, bulu ayam yang diolah dengan proses NaOH 6 % dan dikombinasikan dengan pemanasan tekanan memberikan nilai kecernaan 64,6 %. Lama pemanasan juga dapat meningkatkan kecernaan pepsin bulu ayam hingga 62,9 %. Namun, pemanasan yang terlampau lama dapat merusak asam amino lisin, histidin dan sistin serta menyebabkan terjadinya reaksi kecoklatan (browning reaction).

Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah tepung mengandung protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumenund egradable protein/RUP), tetapi mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pasca rumen. Nilai RUP berkisar 53-88 %, sementara nilai kecernaan dalam rumen hanya 12-46 %. Penggunaan tepung bulu ayam sebagai bahan pakan sumber protein ternak ruminansia merupakan salah satu pilihan yang perlu mendapat pertimbangan. Pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba rumen terutama bakteri selulolitik membutuhkan asam lemak rantai cabang(BCFA). Bakteri selulolitik menggunakan asam lemak rantai cabang sebagai kerangka karbon untuk sintesis protein tubuhnya. Asam lemak rantai cabang yakni isobutirat, isovalerat dan 2- metil butirat diperoleh dari protein pakan. Asam lemak rantai cabang ini adalah hasil deaminasi dan dekarboksilasi dari asam amino rantai cabang (BCAA) yakni leusin, isoleusin, dan valin. Bila kandungan asam amino rantai cabang pakan rendah maka asam lemak rantai cabang merupakan faktor pembatas pertumbuhan bakteri selulolitik.

Hidrolisat bulu ayam kaya akan asam amino bercabang yaitu leusin, isoleusin, dan valin dengan kandungan masing-masing sebesar 4,88, 3,12, dan 4,44%, namun defisien akan asam amino metionin dan lisin. Untuk memenuhi kebutuhan asam lemak rantai cabang bagi pertumbuhan bakteri selulolitik maka dilakukan suplementasi hidrolisat bulu ayam sebagai sumber asam amino rantai cabang yang berperan sebagai prekusor asam lemak rantai cabang. Bagi ternak ruminansia mineral merupakan nutrien yang esensial, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak juga memasok kebutuhan mikroba rumen. Hidrolisat bulu ayam adalah bahan pakan sumber protein yang dapat diproduksi secara lokal dengan kandungan protein kasar sebesar 81−90,60% (NRC, 1985; Sutardi, 2001). Hasil pengujian biologis, tepung bulu dapat digunakan sebagai pengganti komponen bahan pakan penyusun konsentrat untuk ternak ruminansia.

Penggunaan tepung bulu ayam untuk ransum unggas sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) sampai dengan taraf 40 % dari total protein ransum memberikan respons sebaik ransum kontrol. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot. Semakin baik pengolahannya, semakin baik pula hasilnya. Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992). Sebagai bahan makanan unggas dan juga babi, tepung bulu ini memang tergantung pada kemampuan mengolah tepung bulu itu.

Hasil Penelitian Erpomen et al. (2005) Ransum perlakuan dengan susunan sebagai berikut : A = Ransum tanpa TBA (kontrol), B = Penggantian 25 % protein tepung ikan dengan TBA, C = Penggantian 50 % protein tepung ikan dengan TBA, D = Penggantian 75 % priotein tepung ikan dengan TBA, E = Penggantian 100 % protein tepung ikan dengan TBA. Peubah yang diamati selama penelitian : konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konvensi ransum. Hasil penelitian tahap I menunjukkan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara dosis NaOH dengan lama pengukusan terhadap BK, PK, LK dan pengukusan fermentasi TBA memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,05) terhadap BK, PK, LK dan daya cerna protein (TBA). Hasil analisis tahap 2 menunjukkan bahwa bulu ayam yang telah diolah pada tahap I memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, PBB dan konversi ransum. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa : Konsentrasi NaOH dan lama pemanasan yang terbaik adalah 0,2 % dengan lama pemanasan 90 menit yang memberikan daya cerna protein tertinggi 45,02 % dan kandungan lemak kasar terendah 13,37 % serta protein kasar 53,79 %. Bulu ayam yang diolah dengan NaOH dapat dipakai sampai level 15 % (75 % pengganti tepung ikan) dalam ransum broiler. Hal ini dilihat dari konsumsi ransum, PBB, dan konversi ransum yang sama dengan ransum tanpa bulu ayam. Jadi dapat disimpulkan bahwa : Konsentrasi NaOH dan lama pemanasan yang terbaik adalah 0,2 % dengan lama pemanasan 90 menit yang memberikan daya cerna protein tertinggi 45,02 % dan kandungan lemak kasar terendah 13,37 % serta protein kasar 53,79 %. Bulu ayam yang diolah dengan NaOH dapat dipakai sampai level 15 % (75 % pengganti tepung ikan) dalam ransum broiler. Hal ini dilihat dari konsumsi ransum, PBB, dan konversi ransum yang sama dengan ransum tanpa bulu ayam.

Kesimpulan : 1) Penggunaan tepung bulu unggas dapat menggantikan pakan sumber protein konvensional seperti bungkil kedelai dan tepung ikan, 2) Pemanfaatan tepung bulu ayam sebagai pakan dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan bulu ayam yang tidak tepat, dan 3) Pemberian tepung bulu unggas tidak boleh lebih dari 4 % dari total formula ransum.

(Dari berbagai sumber)

Alternatif Bahan Baku Pakan Unggas Itik

Jika itik diberikan pakan komersial sepanjang hidupnya, biaya pakan akan sangat tinggi. Untuk mensiasatinya, itik dapat diberikan pakan alternatif yang dapat diperoleh peternak di lokasi budidaya. Di Tegal Jawa Tengah, peternak umunya memakai pakan itik komersial pada periode awal pertumbuhan anak itik, sekitar umur 4-6 minggu. Selanjutnya mereka menggunakan pakan alternatif seperti kepala udang, bekatul, serta jagung giling yang dicampur nasi. Peternak lazim juga memakai bekicot yang dihancurkan untuk pengganti konsentrat. Bila perlu tambahkan vitamin dan mineral. Banyaknya pakan disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa pakan alternatif yang dapat diberikan antara lain :

1. Bekatul
Bekatul merupakan dedak hasil dari proses penggilingan padi. Bobotnya sekitar 10% dari total berat padi. Dedak kaya karbohidrat sebagai sumber energi. Penggunaan bekatul hingga 75% dalam ransum itik petelur tidak mengganggu produksi telur asalkan kandungan nutrisi yang lain mencukupi.

2. Singkong
Singkong mudah ditemukan dan harganya murah. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai pakan itik adalah umbi yang yang dibuat tepung. tepung singkong atau gaplek mempunyai kandungan karbohidrat tinggi, bahkan hampir menyamai jagung, meski pun miskin protein. Kandungan proteinnya sekitar 2 %. Pada umbi singkong, sebagian besar sianida terdapat pada kulitnya. Pengupasan kulit umbi, perendaman dan pengeringan dapat menurunkan kadar sianida. Tepung singkong dapat digunakan dalam pakan itik hingga 30%. Pemberian tepung singkong dalam jumlah banyak dapat menyebabkan itik terserang mencret.

3. Bekicot
Bekicot dapat digunakan sebagai sumber protein itik. Bekicot segar mengandung protein kasar sekitar 15%. Kadar protein itu dapat digunakan dengan membuat tepung bekicot. Caranya, bekicot dipisahkan dari kulitnya, dikeringkan lalu digiling. Tepung bekicot yang dibuat dari bekicot mentah mengandung 52% protein, sedangkan tepung yuang dibuat dari bekicot rebus mengandung 32,7% protein. Penggunaan bekicot mentah dapat dicampurkan 15% dalam ransum itik, sedangkan tepung bekicot dapat dicampurkan hingga 20%.

4. Keong Mas
Keong mas kaya protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap itik, yaitu menyebabkan penurunan produksi karena di dalam lendir keong terdapat suatu zat antinutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan itik. Untuk itu dianjurkan menggunakan keong mas yang telah direbus. Kandungan zat antinutrisi yang ada akan berkurang atau bahkan hilang setelah proses perebusan selama 15-20 menit. Penggunaan keong dalam ransum itik dapat dicampurkan sebanyak 30%.

5. Cangkang Udang
Cangkang kepala dan kulit udang merupakan limbah yang bayak ditemui di daerah pantai, terutama daerah yang mempunyai pabrik kerupuk udang dan penampungan serta pengolahan udang untuk ekspor. Cangkang udang basah mempunyai kandungan 60-65% kadar air dan apabila dikeringkan mengandung 50% protein kasar, 11 % kalsium, 1,95% fosfor. Pemberin cangkang dan kulit udang dalam ransum itik dapat dicampurkan hingga 30%.

6. Ikan Rucah
Ikan rucah yang banyak terdapat dipelelangan ikan dapat digunakan sebagai sumber protein. Pemberian ikan rucah akan melengkapi kebutuhan protein jika diberikan bersama-sama dengan cangkang udang. Ikan rucah dapat digunakan dalam ransum itik dengan campuran sebanyak 40%.

7. Nasi Kering
Di Tegal Jawa Tengah, nasi kering dijadikan opakan tambahan untuk itik. Nasi kering dapat dijadikan sumber energi dengan penggunaan dalam campuran pakan sebanyak 30%.

8. Pakan Hijauan
Pakan hijauan merupakan salah satu komponen pakan yang memasok kebutuhan serat bagi itik. Wujudnya berupa daun-daunan hijau segar yang diberikan langsung kepada itik setelah dicacah. Pakan hijauan untuk itik antara lain kangkung, bayam, daun eceng gondok, sawi, kubis, dan genjer serta daun pepaya. Selain membantu melancarkan pencernaan itik, pakan hijauan juga memasok kebutuhan vitamin dan mineral. Biasanya 100 ekor itik dewasa diberi pakan hijauan sebanyak 4 Kg perhari. Penggunaan dalam ransum itik dapat dicampurkan sebanyak 5%.

Pada saat musim hujan, itik lebih mudah sakit. Produksi itik petelur bisa trun 30-40%, terutama bila kandang tidak cukup hangat menahan dinginnya cuaca. Sebagai langkah awal, kondisi kandang harus dibuat hangat, di bagian bawah lantai kandang perlu tersedia jerami sebagai alas tidur. Buat penutup di sekeliling kandang agar angin kencang tidak menerpa dan mengganggu istirahat. Langkah selanjutnya, perlu dilakukan perubahan komposisi pakan. Agar tubuh itik menjadi hangat, jumlah karbohidrat perlu ditambah dan mengurangi jenis-jenis bahan pakan yang berasal dari pakan basah seperti ikan rucah. Sedangkan pakan kering berupa loyang perlu ditambah. Bekatul tetap diberikan dalam jumlah sama untuk menjaga pakan itik tidak terlalu basah. Komposisi tersebut dapat diaplikasikan pada itik petelur maupun itik pedaging.
(Sumber : dari berbagai sumber-WD17112011)

Jumat, 08 Juni 2012

Potensi Kerbau Sebagai Sumber Daging

Komitmen pemerintah untuk mencapai kecukupan daging (PKD) 2010, telah dikemukakan oleh Presiden RI, di Dompu, NTB Kamis, 5 April 2006, bahwa “Kurangi Ketergantungan Impor Sapi Melalui Pengembangan Potensi Sumberdaya Ternak Sapi Lokal ”. Potensi sumberdaya lokal yang diharapkan memberikan dukungan terhadap PKD 2010, bukan hanya dari sapi lokal, tapi potensi lain yang tidak kalah penting yaitu ternak kerbau. Di berbagai daerah ternak kerbau mempunyai posisi preferensi yang cukup baik, seperti di Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Selatan dll, bahkan di Jawa Barat sendiri, seperti di Kabupaten Cirebon, Kab. Garut, Kab. Purwakarta, Kab. Tasikmalaya, Kab. Sukabumi dll, ppopulasi dan konsumsi kerbau cukup tinggi. Demikian pula kuantitas perdagangan kerbau juga tidak kalah dengan sapi potong. Ternak kerbau diperdagangkan di Pasar Hewan Karangsambung, Tasikmalaya atau di Pasar Hewan Ciwareng, Purwakarta dengan jumlah mendekati kuantitas sapi potong. Fenomena ini menunjukkan ternak kerbau tetap mempunyai prospek sebagai komoditas usahaternak, meskipun di beberapa negara Asia kerbau dinilai sebagai ternak kurang bernilai (under value animal).

Perkembangan populasi kerbau Di Jawa Barat tahun 2001 sebanyak 153.372 ekor selama lima tahun terakhir terus mengalami penurunan, tahun 2005 menjadi 147.157 ekor. Kondisi ini tidak seperti sapi, meskipun intensitas pemotongan di Jawa Barat yang tinggi, populasi sapi potong menunjukan peningkatan yang cukup baik, dimana tahun 2001 populasi sebanyak 189.518 ekor, tahun 2005 naik menjadi 234.948 ekor. Penurunan populasi kerbau baik secara nasional maupun di Jawa Barat, salah satunya disebabkan oleh rendahnya perhatian dan penanganan insan peternakan terhadap potensi kerbau sebagai penghasil daging yang mampu secara sempurna bersubstitusi dengan daging sapi.

Dibalik beberapa faktor yang menghambat perkembangan populasi ternak kerbau, sebenarnya kerbau mempunyai beberapa keunggulan yang dinilai sesuai dengan potensi sumberdaya lokal yang ada di Jawa Barat, antara lain :
  • Sebagai sumber tenaga kerja di lahan sawah, ternak kerbau sangat sesuai dengan kondisi lahan sawah yang sempit serta berkontur berat – berbukit.
  • Fungsi sosial sebagai tabungan.
  • Sangat responsif terhadap pemberian jerami padi, karena kerbau efisien menggunakan nitrogen dari bahan pakan berkualitas rendah.
  • Dipelihara dengan biaya yang lebih murah.
  • Average daily gain 0,73 kg/ekor/hari (pemeliharaan secara intensif)
  • Feed conversion menjadi daging sama dengan sapi potong
  • Kerbau muda yang digemukkan mempunyai kualitas daging yang tidak kalah dengan sapi potong.
  • Sebagai penghasil pupuk organik, 25-27 kg/ekor/hari. Kadar N : 5,5 kg/ton, P : 4 kg/ton dan K : 5 kg/ton.
Kerbau memiliki kelemahan yang berkaitan erat dengan peningkatan populasi, yaitu kinerja reproduksinya yang rendah. Dalam struktur budaya lokal di beberapa daerah, ada keengganan dari sebagian peternak untuk memelihara jantan karena pengendaliannya yang sangat sulit. Disamping itu, sebagian peternak percaya bahwa betina dewasa akan bunting meskipun tidak ada pejantan. Sebagian besar kerbau jantan dijual menjelang dewasa. Disamping itu, perkawinan yang terjadipun dilakukan oleh jantan muda sebelum ternak jantan tersebut laku dijual. Akibatnya rasio jantan betina menjadi sangat rendah, sehingga mengurangi kesempatan terjadinya perkawinan atau kebutingan.

Fenomena lain yang terlihat dalam budidaya kerbau di peternak adalah pola kandang individu, disertai dengan rasio jantan betina yang rendah, akan mengurangi kesempatan untuk terjadinya perkawinan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan perkawinan kerbau terjadi menjelang pagi, dimana kerbau jantan dan betina masih terpisah dalam kandang masing-masing, akibat dari pola menejemen yang tidak tepat tersebut adalah rendahnya kebuntingan. Dengan demikian Calving interval menjadi panjang yang berujung pada kesimpulan kinerja reproduksi kerbau yang rendah.

Mempertimbangkan berbagai faktor keunggulan dan kelemahan dalam pola budidaya yang masih memungkinkan adanya perbaikan, masalah mendasar untuk pengembangan ternak kerbau saat ini dan untuk beberapa tahun mendatang adalah pengadaan bibit (terutama bibit jantan), yang secara kuantitas dan kualitas masih rendah. Pemerintah telah menyadari fakta tersebut, sehingga perhatian mulai diarahkan pada perbibitan kerbau ini. Pola perbibitan yang mungkin akan efektif berjalan adalah yang melibatkan kepentingan masyarakat baik sisi ekonomi sosial maupun jangkauan teknisnya. Namun demikian, supaya hasilnya dapat efektif dan efisien serta memenuhi harapan, maka diperlukan suatu pola perbibitan kerbau yang tepat sesuai dengan sumberdaya lokal dan kebutuhan masyarakat, sehingga dalam implementasinya lebih cepat diterima peternak secara umum. Dengan tersusunnya pola perbibitan yang tepat diharapkan kinerja reproduksi, produksi dan produktivitas kerbau dapat diperbaiki. Sehingga dalam jangka panjang mampu memberikan kontribusi besar bagi penyediaan daging di Jawa Barat dan Nasional
(Sumber : http://blogs.unpad.ac.id/dwicipto)

Peternakan Untuk Pintar dan Sejahtera

Peningkatan kualitas SDM secara teori dan juga terbukti harus di dukung dengan asupan gizi yang baik dan seimbang. Salah satu sumber gizi terbaik tersebut adalah sumber pangan hewani yang jelas-jelas berasal dari produk peternakan (daging, telur dan susu). Lalu apakah kondisi ketika bangsa kita masih rendah mengkonsumsi daging menjadi alasan kita juga untuk menilai bahwa SDM kita juga lebih rendah dibandingkan dengan Negara lain. Namun demikian, jika pula kita kaitkan dengan Indeks Prestasi Manusia secara nasional, kondisinya memang masih perlu harus ditingkatkan, meski bukan harus dipaksa untuk makan daging, karena peningkatan kesejahteraan hidup dan kemudahan akses untuk memperoleh pangan yang sehat yang lebih utama ditingkatkan. Dengan peningkatan kesejahteraan (tidak miskin lagi) maka akan terjadi peningkatan konsumsi protein hewani dan akan berdampak baik pada peningkatan kualitas SDM sebuah bangsa.

Kondisi dan realitas di atas jika kita kaitkan khususnya dengan asupan pangan (yang ideal) untuk pemenuhan gizi yang bersumber dari protein hewani, data-data statistic kembali menunjukan bahwa tingkat konsumsi produk peternakan atau protein hewani rata-rata penduduk Indonesia terendah di negara-negara ASEAN. Direktorat Jenderal Peternakan dalam datanya menunjukan bahwa konsumsi daging, susu, dan telur bangsa Indonesia berada jauh di bawah Malaysia`dan Filipina. Total tingkat konsumsi protein hewani bangsa Indonesia pada 2007 hanya 14,04 kg per kapita per tahun yaitu daging 5,13 kg per kapita per tahun, telur 6,78 kg per kapita per tahun, dan susu hanya 3,13 kg per kapita per tahun. Bandingkan dengan Negara tetangga Malaysia yang konsumsi dagingnya mencapai 46,87 kg per kapita per tahun. Demikian juga jika dibandingkan dengan konsumsi rata-rata bangsa Filipina, Indonesia juga masih kalah jauh. Rata-rata konsumsi produk hewani bangsa Filipina per kapita per tahun mencapai 26,96 kg.

Pada aspek produksi peternakan, sebagai pemasok kebutuhan pangan hewani, pemenuhan produksi dalam negeri daging ayam dan telur, sudah mampu mencukupi melalui industrialisasi ayam ras potong dan ayam ras petelur, meski sesekali masih juga masuk daging ayam beku dan telur secara ilegal. Sementara untuk untuk susu 70% pemenuhan kebutuhan nasional masih berasal dari kran impor. Kebutuhan daging sapi nasional baru terpenuhi 65 persen dan kekurangannya dipenuhi dari impor. Kondisi inilah yang menjadi salah satu latar belakang kebijakan pemerintah untuk pencapaian swasembada daging nasional, yang semula dicanangkan dicapai pada tahun 2010, dan lalu kembali ditargetkan harus swasembada pada tahun 2014.

Beberapa kondisi rendahnya tingkat produksi komoditas peternakan, sebenarnya adalah peluang untuk dikembangkan dan ditingkatkan lebih jauh. Peningkatan kapasitas dan produksi peternakan dapat sekaligus menjawab masalah kemiskinan dan rendahnya kualitas SDM. Seperti kita ketahui, peternakan selain kontribusi pasar yang menyumbang nilai pangan dan produksi pertanian baik secara langsung maupun tidak langsung sebesar 30-40%, juga memiliki kontribusi yang cukup penting terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 25-30% GDP pertanian. Disisi lain, jumlah rumah tangga peternakan sebanyak 5,63juta dan mencakup 23,60 (Ditjenak, 2009) anggota rumah tangga yang sebagian besar adalah peternak rakyat, dan lokasi-lokasi peternakan/pengembangan wilayah peternakan yang berada di daerah pedesaan sehingga diyakini menjadi salah satu subsector yang mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran.

Pengembangan peternakan rakyat untuk kelompok masyarakat melalui pengembangan ekonomi rakyat berbasis ternak local (sapi-kambing-domba-ayam kampung dan bebek) dalam aspek produksi budidaya dan pembibitan, juga dapat diyakini mampu mengembalikan symbol kesejahteraan masyarakat dan mampu menjawab masalah kemiskinan di pedesaan. Lebih lanjut peningkatan kesejahteraan tersebut juga harus diikuti dengan penciptaan dan terbukanya peluang usaha bagi wirausaha-wirausaha yang tangguh dalam agribisnis peternakan yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah.

Manajemen Itik Lokal

Prasetyo et al., (2006) menyatakan bahwa itik lokal adalah keturunan dari tetua pendatang yang telah mengalami domestiksi tetapi belum jelas tahun masuk tetua tersebut ke wilayah Indonesia. Berdasarkan pengamatan di Jawa Barat itik lokal tersebut dikelompokan berdasarkan habitatnya, yaitu itik daratan rendah (Cirebon, Karawang, Serang), itik gunung atau dataran tinggi (Cihateup) dan itik rawa (Alabio). Itik yang dipelihara saat ini disebut Anas domesticus. Itik ini berasal dari domestikasi itik liar (Anas moscha) atau wild mallard (Suharno dan Setiawan, 1999). Taksonomi itik sebagai berikut (Scanes et. al., 2004), Filum : Chordate, Subfilum: Vertebrata, Klas : Aves, Superordo : Carinatae, Ordo: Anseriformes, spesies : Anas platryhynchos (mallard dan domestic).

Itik bersifat omnivorus (pemakan segala). Ciri-ciri kaki pendek dari tubuh, kaki memiliki selaput renang, paruh ditutupi selaput halus yang sensitive, bulu cekung, tebal, berminyak, memilki lapisan lemak di bawah permukaan kulit, dagingnya gelap (dark meat), tulang dada itik berbentuk sampan (Suharno dan Setiawan, 1999). Rasyaf (2003) itik merupakan unggas air yang dipelihara untuk diambil telur dan dagingnya yang mempunyai cirri-ciri umum tubuhnya ramping, berjalan horizontal, berdiri hampir tegak seperti botol, lincah sebagai cirri unggs petelur.

Merupakan hewan monogamus atau hidup berpasangn yang biasa diternakan untuk dambil daging dan telurnya. Itik lokal Indonesia umumnya tipe petelur, dengan masak kelamin umur 20-22 minggu, lama produksi 15 bulan (Hardjosworo dan Rukmiasih,1999). Windhyarti (1999) itik dbagi tiga tipe yaitu tipe pedaging, petelur, hias (ornamental). Itik pedaging contohnya Muscovy (Anas moscata, itk manila), itik peking, itik rouen. Itik hias seperti itik blue swedis. Itik petelur seperti Indian runner (Anas javanica) yang terdiri dari itik karawang, itak mojosari, itik tegal, itik magelang, itik bali (Anas sp.), itik alabio (Anas platurynchos borneo), itik khaki Campbell, itik CV 2000-INA serta itik unggul lain yang merupakan persilangan para pakar BPT Ciawi-Bogor.

Konsumsi Ransum
Amrullah (2004), untuk menduga besarnya konsumsi ransum ternak unggas dengan menggunakan data sebelumnya dan meperhitungkan perubahan lingkungan serta adanya faktor lain yang mempengaruhi pada minggu berikutnya. Dengan cara menghitung sisa ransum sekarang dikurangi dengan sisa ransum sebelumnya. Faktor yang mempengaruhi konsumsi itik adalah kesehatan itik, kandungan energy ransum, macam bahan makanan, kondisi ransum, kebutuhan hidup dan produksi sesuai fase pretumbuhannya , selera, metode pemberian (Rasyaf, 1993). Amrullah (2004) menyatakan bahwa dua faktor utama yang berpengaruh terhadap konsumsi harian ransum yaitu kalori ransum dan suhu lingkungn. Pemberian ransum ada 3 tingkatan yaitu ransum untuk anak itik, itik remaja dan itik yang sedang bertelur. Anak itik mengkonsumsi sebesar 58,3 gram /ekor /hari, itik remaja 80, petelur 180 gram /ekor /hari (Rasyaf, 1993)

Konversi Ransum
Konversi ransum untuk itik Alabio, CV 2000 dan silangannya yaitu Alabio CV 2000 serta CV 2000 dengan Alabio adalah 8,24; 7,08; 6,91; dan 5,79 pada umur 19 sampai 28 minggu, untuk itik yang sama pada umur 21 sampai 28 minggu mempunyai konversi 6,7; 5,7; 5,55; dan 4,64 (zubaidah, 1991). Konversi ransum dipakai untuk mengetahui tingkat efisiensi produksi. Angka konversi ransum menggambarkan efisiensi pakan, konversi ransum tinggi maka penggunaan pakan kurang ekonomis. Anggorodi (1985) konversi ransum merupakan indikator teknis yang menggambarkan penggunaan ransum. Angka konversi ransum akan membaik bila energy dan protein ransum disesuaikan. Faktor-faktor yang berpengaruh pada konversi pakan adalah produksi telur, kandungan energi ransum, berat badan, nutrisi pakan dan tempratur udara.
Ada kesalahan di dalam gadget ini