Minggu, 11 November 2012

Dinas Peternakan Patenkan 4 Jenis Ternak Lokal Jawa Barat

Dinas Peternakan Jabar mengantongi hak paten atas empat komoditas peternakan sebagai kekayaan asli Jabar yaitu domba garut, ayam pelung, ayam sentul dan itik rambon atau itik khas Cirebon. 

Kepala Dinas Peternakan Jabar Koesmayadi Tatang Padmadinata mengatakan dengan adanya pematenan komoditas tersebut diharapkan tidak ada lagi pengakuan dari pihak lain. “Semoga tidak ada lagi pengakuan hak miliki seperti yang telah dilakukan Jepang terhadap ayam pelung baru-baru ini,” katanya kepada Bisnis, Minggu (11/11).

Dia menjelaskan sentra ayam pelung terdapat di Sukabumi dan Cianjur, sedangkan ayam sentul berada di Ciamis, itik rambon di Cirebon, sedangkan sentra domba Garut terdapat di wilayah Garut dan Bandung. Menurutnya, untuk komoditas domba Garut sendiri pihaknya memiliki Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Domba (BPPTD) Margawati Garut sebagai tempat penelitian dan pengembangan domba yang tidak dimiliki wilayah lain.

Selama ini, para peternak hewan unggulan tersebut mengandalkan pakan lokal dengan kualitas bagus yang tidak kalah bersaing dengan produk pakan impor. “Peternak lokal di Jabar seperti peternak domba dan ayam pelung sudah bisa adaptasi sehingga banyak yang menggunakan sumber pakan lokal, dan menghasilkan produksi peternakan yang baik,” tegasnya. Tatang menambahkan untuk komoditas pertanian juga banyak produk unggulan yang harus diperhatikan, sejauh ini hanya dua komoditas yang telah mendapatkan hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Masyarakat Indikasi Geografis Indonesia Jabar Asep Sahdiana mengatakan produk pertanian asal Jabar yang telah mendapatkan perlindungan hukum tersebut a.l Kopi Arabica dan Ubi Cilembu. "Tapi, untuk komoditas pertanian lainnya seperti teh. Belum dibuatkan hak patennya. Sebaiknya ini harus juga dibuatkan," katanya.

Menurutnya, semua orang bisa mengajukan sertifikasi indikasi geografis lewat lembaga yang diberi wewenang seperti lembaga wakil masyarakat daerah produksi, produsen barang dan kelompok konsumen barang tersebut. Perlindungan hukum terhadap produk indikasi geografis itu berlangsung selama ciri-ciri atau kualitas berupa rasa, warna dan bentuknya tidak hilang atau tetap terlindungi.

Menurut dia, jika produk bersertifikat kualitasnya meningkat, tidak perlu mendaftar ulang, cukup memberitahukan ke Ditjen HKI soal perubahan tersebut. Sertifikasi indikasi geografis bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk pertanian, dengan menjual keunikan dari cita rasa produk pertanian yang dihasilkan suatu daerah dan tidak dimiliki daerah lain. 

Selain produk pertanian, hasil olahan produk pertanian, kerajinan tangan dan hasil tambang bisa didaftarkan sebagai indikasi geografis. "Sejauh ini, kalau untuk peternakan tidak bisa kami lakukan. Mungkin bisa dilakukan oleh institusi lainnya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Harian DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar Entang Sastraatmadja mengatakan pada komoditas pertanian Jabar memiliki benih padi sebagai khas Jabar yang sudah dipatenkan.

“Ini merupakan sebuah fenomena yang menarik yang harus dipelihara bersama. Jabar punya keunggulan dan ciri khas yang harus dipelihara ke depannya,” ungkapnya. (k5/k6/faa)
Sumber : bisnis.com
Ada kesalahan di dalam gadget ini