Jumat, 08 Juni 2012

Jawa Barat Dukung Program Peternakan

Seminar Nasional yang bertemakan “Menilik potensi Jawa Barat mencapai swasembada daging 2014” (Sabtu, 3/3) di Gedung 5, Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran Bandung yang diselenggarakan oleh BEM Peternakan Unpad. Hadir sebagai pembicara Dr. Dewi Sartika ( Dinas Peternakan Jawa Barat ), Mansyur, S.pt,M.Si ( Dosen Fapet Unpad ), Iqbal Rahmadi,S.Pt ( Pengusaha Sapi Potong ) dan dimoderatori oleh Astiti Nurani ( Mahasiswa Fapet Unpad ). Seminar Nasional ini dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Peternakan universitas Padjajaran dan Universitas Jenderal Soedirman, serta dihadiri pula dari perwakilan ISMAPETI.

Dalam seminar dijelaskan bahwa potensi Jawa Barat sangat mendukung untuk usaha peternakan, hal tersebut dengan berbagai alasan seperti agroklimat yang baik, basis sumberdaya lokal genetik ternak, serta aksesibilitas wilayah produsen dan konsumen relatif baik. Dinas Peternakan yang memang menaungi bidang tersebut sangat mendukung adanya usaha bidang peternakan dengan berbagai programnya seperti Kredit Cinta Rakyat (KCR). KCR merupakan kredit yang diberikan kepada pelaku usaha perorangan mikro dan kecil dalam sektor ekonomi produktif yang ada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Program tersebut bertujuan untuk penambahan modal kerja dan/atau investasi yang dapat diakses melalui BJB ( Bank Jabar Banten ) dengan tingkat suku bunga 9,3 efektif per tahun. Jumlah alokasi KCR yang tersedia sebesar Rp 165 milyar dan besaran plafon KCR, bagi Usaha Mikro maksimal sebesar Rp 20 juta dan Usaha Kecil sebesar Rp 20 juta- Rp. 50 juta.

Swasembada Daging
Masalah – masalah klasik seperti pemotongan betina produktif menjadi hambatan yang cukup serius dalam mencapai Program Swasembada Daging 2014, hal tersebut karena tidak bisa hanya pemerintah saja yang berperan tetapi para peternak, tukang jagal dan sebagainya harus ikut berperan juga. Logikanya bagaimana populasi ternak dapat semakin bertambah apabila betina yang masih produktif banyak yang masih dipotong. Menanggapi masalah tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yaitu memberikan subsidi kepada peternak sebesar Rp 750 ribu, untuk betina yang sedang bunting, diharapkan program ini menjadi terobosan solusi menghadapi masalah tersebut.

“Berdasarkan hasil sensus ternak yang dilakukan pada Juni 2011, populasi sapi dan kerbau pada 2012 sudah mencapai 15,6 juta ekor,” kata dosen Fakultas Peternakan Unpad, Mansyur, S.Pt, M.Si. Beliau mendefenisikan swasembada daging yang ditetapkan pemerintah adalah kemampuan ternak lokal untuk memenuhi 90% total kebutuhan nasional, sedangkan 10% sisanya dipenuhi dari impor, yang menjadi masalah, apakah swasembada daging itu hanya sekadar kebijakan atau dapat diwujudkan. Karena sekarang saja, secara statistik jumlah ternak sudah melampaui perencanaan, tetapi kenyataan di lapangan kita dapat menilai sendiri apakah sudah swasembada apa belum, ini yang menjadi masalah yang memang belum terpecahkan sampai saat ini.
(Sumber : pbismapeti.wordpres.com)
Ada kesalahan di dalam gadget ini